Kisah Mardiono, penjual stiker hingga jadi pengusaha sofa bermotif kerawang Gayo di Takengon

KBRN, Takengon: Sekitar 2 kilometer dari kota Takengon, persis di pinggir jalan nasional Takengon-Nagan Raya atau tepatnya di desa Pendere, kecamatan Bebesen, tampak dari kejauhan seseorang sedang asyik membolak-balik papan dengan kelebaran 2 sampai dengan 3 cm yang sudah berbentuk persegi empat atau kubus.

Kami mencoba mendekat. Sebelum masuk, pada sebuah toko berukuran kurang lebih 4x20 meter ini tampak banyak kayu yang sudah dibentuk sedemikian rupa menjadi kerangka dari usaha yang dilakoni Mardiono.

Barulah kami tahu, ternyata seseorang yang tampak dari kejauhan tadi sedang merangkai pembuatan sofa, maupun spring bed.

Ini adalah salah satu usaha milik Mardiono, warga asal desa Tebes Lues, kecamatan Bies, kabupaten Aceh Tengah.

Sebelum menjadi pengusaha sofa, pria keturunan suku Jawa ini memulai usaha dari menjual stiker ke sepeda motor maupun mobil dan memasang jok kendaraan.

Perlahan tapi pasti, dengan niat dan memiliki tekad yang kuat, usaha yang ditekuni itu membuahkan hasil dan mengantarkan dirinya menjadi seorang pengusaha sofa mulai tahun 2017 lalu.

"Saya memang buatnya (usaha) bukan langsung ke sofa, tapi saya pertama itu buka usaha dari stiker, jadi ada beberapa stiker yang udah saya kreasikan, termasuk ke mobil, setelah itu Alhamdulillah berkembangnya sangat banyak, kemudian timbul lagi pemikiran dari saya untuk mengembangkan satu kreasi lagi, saya buat jok mobil, berkembang lagi, selanjutnya saya kembangkan lagi untuk membuat sofa dan spring bed, saya kreasikan sebagus mungkin," ujarnya.

Diakui, usaha di bidang sofa mengantarkan dirinya dalam kesuksesan yang diinginkan setiap pengusaha.

Memang sebelum seperti sekarang ini, yaitu memproduksi sofa sendiri dan memasarkannya, ada usaha yang cukup sulit dirintisnya kala itu.

Mardiono saat itu memulai usaha sofa masih dalam kategori melakukan perbaikan sofa maupun spring bed masyarakat yang mengalami kerusakan.

Beberapa kali Mardiono harus saling barter dengan pelanggan, misalnya saja barter kayu dengan sofa dan sewa kontrakan.

Antusias masyarakat pun terhadap kualitas yang disuguhkan usaha Mardiono di apresiasi, hingga akhirnya pria yang punya hobi Grasstrack ini melebarkan sayapnya, selain melakukan rebab atau memperbaiki sofa dan spring bed masyarakat, juga memproduksi dan memasarkan produknya sendiri.

"Pertama saya bikin itu bukan dari tempahan, tapi saya buat rehab, ada beberapa yang udah kita rehab, Alhamdulillah setelah kita rehab antusias berbeda, diceritakan konsumen ini bukan perehapan tapi produk baru. Setelah itu saya kepikiran untuk buat produk baru lagi, beberapa macam motif, akhirnya saya punya nama eksis sofa dan spring bed kerawang Gayo," jelasnya.

Motif kerawang Gayo ini pula menghantarkan Mardiono mendapat penghargaan dari pemerintah kabupaten Aceh Tengah dan sampai diundang untuk mengikuti pameran UMKM di sejumlah kabupaten kota bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten.

"Usaha saya makin besar. Ide saya keluarkan dan Alhamdulillah saya dapat penghargaan dari Pak Bupati, di festival kan sampai ke seluruh Aceh ini sudah, sampai ke Pidie Jaya di acara Dekranas juga," katanya.

Usaha tak selamanya lancar, musibah menghampiri pria berumur 43 tahun ini, tepatnya pada 9 Januari 2022 lalu, gudang yang dia miliki terbakar.

Hal itu pula memaksa belasan karyawannya yang sejak beberapa tahun bersamanya kehilangan lapangan kerja.

Dirinya sempat vakum dalam menjalankan bisnisnya selama kurang lebih 4 bulan lamanya.

Kini, pasca lebaran idul fitri, Mardiono mencoba menjalani usahanya kembali dari nol.

Untuk tahap awal ini, dirinya mempekerjakan 1 hingga 5 karyawan.

"Semua kehendak Allah, ada kejadian kebakaran, pabrik saya kebakaran, habis total nggak ada apa-apa, sama sekali nggak ada apa-apa, mesin sudah habis, kalau ditotalkan, nggak bisa kita pikirkan. Saya berfikir, saya harus bangkit, tapi sekitar 4 bulan saya off setelah kejadian (kebakaran), saya susun rencana untuk bagaimana saya bisa bangkit, nah inilah hasilnya dalam waktu 2 bulan, mudah-mudahan lambat laun akan lebih maju dan punya dana lagi untuk berusaha lagi," paparnya.

Mardiono mengaku masih tetap berkreasi membuat sofa bermotif kerawang Gayo maupun umum.

Bahkan jika usahanya mendapatkan dukungan masyarakat lebih luas lagi, bukan hanya sofa dan spring bed kerawang Gayo, namun juga motif Aceh juga akan ia kembangkan.

"Jepara itu bisa sampai ke luar negeri, bagaimana kreasi kita sofa bermotif kerawang Gayo dan spring bed bisa sampai keluar juga," katanya.

Dia berharap kepada pemerintah dan masyarakat umum untuk mendukung ide atau gagasan yang dibuatnya, yaitu berwirausaha dengan menyertakan khas masyarakat suku Gayo agar lebih berkesan dan dikenal banyak kalangan.

"Harapan untuk di dukung kreasi dari tanah Gayo, baik dari pemerintah, pejabat berkaitan, ini adalah aset dari daerah, pemikiran kita dari orang Gayo di sini, sudah ada pemikiran yang betul-betul bisa untuk kita keluarkan, jadi ini harapan dari saya," pungkas Mardiono yang telah mengenyam pendidikan hingga jenjang S2.

Dalam mengembangkan usaha, tidak terlepas dukungan dari semua pihak. Semoga harapan yang disampaikan Mardiono untuk suksesnya usaha dapat terkabul dengan tidak mengurangi nilai kearifan lokal yang di dambakan.

Satiran.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar