Kesaksian Petugas Swab; Virus itu Mengerikan

Safwan Hasbi saat mengambil sampel swab PCR di BLUD Datu Beru Takengon pada Sabtu (4/9). Foto@RRI

KBRN, Takengon : Safwan dan sejumlah rekannya masih menggunakan alat pelindung diri lengkap. Mengambil sejumlah sampel swab PCR di BLUD Datu Beru Takengon, Aceh Tengah. Satu persatu sampel swab pasien diselesaikan. Safwan bergabung dalam tim medis penanganan covid di Aceh Tengah. Secara spesifik, tugasya mengabil sampel swab. Safwan ditugaskan bergabung dalam tim itu setelah mendapat pelatihan khusus.

Sabtu (4/9) jelang siang, penulis sendiri dilayani oleh Safwan untuk pengambilan sampel swab ke-3. Pria anak satu ini cukup santun. Ketulusannya dalam bertugas terasa kental. Sembari perlahan menusuk hidung, ada penjelasan singkat yang disampaikan, dan swab selesai.

“Bernafas seperti biasa ya pak, jangan dilawan, ok, selesai,” begitu kira-kira kalimatnya.

Usai swab, Safwan menyempatkan menjawab beberapa pertayaan dari pasien. Tak luput diakhir pembicaraannya Ia menitip pesan untuk tetap taat menggunakan protokol kesehatan. Selesai di swab, penulis mengamati kerja Safwan dari kejauhan. Pria kulit putih itu memang profesional. Kerjanya santai. Tidak gegabah dan penuh kehati-hatian. 

Penulis berkesempatan mewawancarai Safwan saat jam istirahat siang. Proses wawancara berlangsung dengan jaga jarak. Safwan sendiri masih menggunakan APD. Kepada rri, pemilik nama lengkap Safwan Hasbi itu berbagi cerita. Ia tak menamapik ada kekhawatiran yang muncul dibenak hati. Takut terpapar. Apalagi sampai tertular ke anak istri. Namun, dengan keikhlasan, pria 31 tahun itu bertekat mengemban tugas. Tujuannya untuk keselamatan bersama. Tak peduli kendati masih berstatus tenaga kontrak. Dan sukur, hingga kini Ia masih selamat dari wabah ini.

Safwan menyebut, petugas yang tergabung dalam tim swab PCR, bertugas tiga hari dalam seminggu; Selasa, Kamis dan Sabtu. Kerjanya terkadang hingga malam hari. Sebagai upaya antisipasi, mereka secara berkala di swab untuk mengetahui kondisi kekinian.

Begitupun, pria anak satu itu mengaku istrinya yang juga bertugas sebagai tenaga bakti di BLUD Datu Beru, sempat terpapar covid pada Juni lalu. Bersukur sudah kembali pulih.

“Ya, istri yang kena kemarin, tapi sudah sembuh dan kembali beraktifitas seperti biasa,” katanya.

Melihat dari pengalamannya, Safwan secara sungguh-sungguh mengingatkan masyarakat untuk tidak main-main dengan covid. Menurutnya, wabah corona bernar nyata hingga menyebabkan kematian. Karenanya, Safwan meminta masyarakat yang terpaksa beraktifitas di luar rumah untuk memakai masker, menjaga jarak dan rajin cuci tangan.

“Nyata penyakit ini, itu kalau di Lab kita lihat, ngeri, tapi secara teknis ada doter spesialis yang baca hasil Labnya,” ujarnya.

Safwan juga mengingatkan kepada kaum yang menganggap covid tidak benar adanya untuk tetap memakai masker guna mencegah terjadinya penularan kepada orang lain.

Begitupun, Safwan tak henti terus berharap agar masyarakat secara bersama-sama membantu pemerintah dalam upaya memutus matarantai penyebaran corona di tanah air dengan taat Protkes dan dilanjutkan vaksin.

“Sudah banyak yang mati, masih gak percaya ya sudah, tapi tetap pakai masker, jangan gara-garanya menderita orang lain,” ujarnya. 

Berdasarkan data Satgas Nasional, Aceh Tengah masuk dalam zona oranye dengan tingkat penyebaran sedang. Sementara kasus terkonfirmasi di Aceh Tengah sebagaimana dirilis Satgas Covid Aceh Minggu (5/9) sore berjumlah 1.260 orang; 183 dirawat, 1.024 sembuh dan 53 orang dinyatakan meninggal dunia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar