Segenggam Beras untuk Kain Kafan

KBRN, Takengon: Mempertahankan gotong royong dari hal yang terkecil dilakukan sekelompok masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah.

“Itu dari Ibu-ibu pengajian di Menasah itu. Jadi sesudah pengajian, ada timbul rencana membikin beras segenggam, tiap masak dikumpulkan segegam demi segenggam,” ujar tokoh masyarakat Viktoria.

Masyarakat di Dusun Rebe Gedung, desa Timangan Gading Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah masih kental dengan budaya gotong royong. Termasuk mengumpulkan beras satu genggam setiap hendak masak untuk membeli kain kafan.

Tradisi ini sudah berjalan 8 tahun silam. Gagasan pertamanya muncul dari kaum Ibu-ibu yang rutin melaksanakan pengajian di Mersah atau tempat ibadah.

Petue atau orang dituakan di desa setempat Viktoria menyampaikan setelah ide atau gagasan tersebut disetujui seluruh warga, maka setiap rumah di dusun Rebe Gedung yang hendak masak, dengan sukarela menyisihkan beras satu genggam.

Dalam satu bulan, maka diambil dua kali oleh petugas yang memang sudah ditunjuk untuk mengumpulkan beras tersebut.

Berikut ini penutuaran Viktoria.

 “Sudah sampai satu bulan, datang satu orang pengumpulnya. Jadi sudah dikumpulkan, dijual, berapa uangnya, disimpan di Bank uangnya, dibikin satu Ketua,” kata Viktoria.

Masih menurut Viktoria, pengumpulan beras satu genggam tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat setempat yang tertimpa musibah meninggal dunia. Di mana perlengkapan jenazah sampai biaya makan dan gali kubur ditanggung dari hasil kegiatan pengumpulan beras satu genggam tersebut.

“Apabila ada musibah disekitar sini, harga kafan, sampai biaya orang korek kubur di ambil dari sana. Sudah genap perlengkapan, papan, teratak, pemandi jenazah, gentong, cerek, alat korek kubur cangkol semua lengkap. Uang di Bank sudah sampai puluhan juta. Kalau ada musibah diambil uang terus di Bank, dibeli perlengkapan. Jadi orang yang musibah enggak lagi repot,” jelasnya.

Imem atau pemuka Agama desa Timangan Gading Tgk Mulyadi menyampaikan, apa yang dilakukan masyarakat dengan mengumpulkan segenggam beras untuk kain kafan tersebut merupakan bentuk social kemasyarakatan yang mempertahankan kegiatan gotong royong yang digaungkan sejak jaman Presiden Soeharto, sekaligus pesan yang tersirat adalah masyarakat dusun Rebe Gedung desa Timangan Gading diingatkan akan hari akhir atau kematian dan meninggalkan dunia ini.

“Kita kan masyarakat makhluk social. Musibah ini kan tidak terencana, makanya tidak ada persiapan, makanya timbul aspirasi dari masyarakat juga kek mana biar jangan ada kekurangan untuk menghadapi musibah. Makanya dibikin beras segenggam. Ini mengingat kematian, bekal untuk kematian. Kita harus berat sama-sama dipikul, ringan sama-sama dijinjing, kematian ini merata,” ungkapnya.

Sementara itu warga yang telah merasakan manfaat dari program segenggam beras untuk kain kafan dusun Rebe Gedung, Elvi Zaini mengaku sangat terbantu dengan adanya program yang lahir dari ide Ibu-ibu tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Disaat kami panic sedang berdukua, ada bantuan dari desa kami sangat bersyukur. Jadi keluarga korban sangat terbantu dengan adanya program beras segenggam ini, kain kafan, papan, biaya penguburan, makan dan minum itu disediakan. Jadi keluarga korban (musibah) sangat terbantu atas program Ibu-ibu ini, walaupun simple tapi bermanfaat, keluarga (musibah) tidak lagi memikirkan kain kafan, nasi orang ke kuburan, papan, itu enggak lagi jadi beban karena masyarakat sudah berpartisipasi,” kata Elvi Zaini.

Tokoh masyarakat desa Timangan Gading, Firdaus berharap program segenggam beras untuk kain kafan dapat menular di seluruh penjuru Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Hal itu dengan mempertimbangkan banyak manfaat, mulai dari menjalin silaturahmi, menanamkan gotong royong, membantu sesama, mempertahankan persatuan.

“Jangan desa lagi. Artinya bagaimana setiap Kabupaten ada program itu. Simple sekali program ini, dengan satu genggam sekali masak, satu hari tiga kali masak berarti tiga genggam, lama kelamaan terkumpul dan jadi besar, ini ahli musibah terbantu sekali, cukup bermanfaat. Saya ada menawarkan kain kafan, kayu, papan untuk liang lahat, tapi Pak Imem di sini, bukan dia menolak, tapi beliau memang sudah mengadakan sampai ke tenda dan segala macam, jadi ahli musibah sangat terbantu sekali,” demikian Firdaus.

Kesederhanaan dan kemauan untuk melakukan hal kecil menjadi hal bermanfaat untuk kehidupan social masyarakat. Sudah sepatutnya menjadi contoh bagi warga lainnya untuk saling mempekuat membantu, mempertahankan budaya gotong royong ditengah arus globalisasi yang banyak merubah manusia.

Satiran

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar