Harga Jual Kopi Gayo Dianggap Belum Untungkan Petani

KBRN, Redelong: Memasuki musim penghujan harga jual kopi arabika  Gayo hingga saat ini masih belum juga menunjukan kenaikan yang signifikan.

Harga kopi gelondong (merah) masih bertahan dikisaran Rp. 6.000-Rp. 7,000 per bambu, padahal saat ini memasuki pertengahan musim panen raya.

Fikar salah seorang pengepul (agen kopi) yang beralamat di Pondok Baru, saat dikonfirmasi mengatakan, ia membeli kopi bulat dari petani dengan harga Rp. 6.000 per bambu.

“Untuk saat ini harga kopi anjlok dilapangan, harga sementara ini kami (agen) belanja dari petani hanya Rp. 6.000 per bambu,” ungkapnya.

Burhanuddin, Direktur CV. Zahra Sentral Kupi yang beralamat di Simpang Tiga, saat wawancara Bersama RRI menjelaskan, masih rendahnya harga jual kopi Gayo dipicu masih belum dibukanya kran ekspor seluruhnya ke luar negeri, akibat covid-19 yang melanda belahan dunia sekarang ini.

“Penyebab yang paling utama turunnya harga kopi, masih belum tuntasnya virus corona hingga hari ini sehingga eksportir mengirim barang berjangka, keterlambatan pengiriman kemungkinan tertunda di bulan satu atau bulan dua, sementara hingga saat ini lagi panen raya jadi pembeli, mereka pun terbatas untuk pembelian sehingga karena banyak penawaran, harga kopi turun,” kata Burhanuddin, Direktur CV. Zahra Sentral Kupi, Minggu (29/11/2020).

Lanjutnya, tujuan Ekspor kopi Gayo terbanyak kebenua Eropa dan Amerika, tetapi saat ini gerai-gerai kopi mereka banyak yang belum buka, sehingga mereka belum melakukan pemesanan.

    

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00