Ini Penyebab Harga Kopi dan Palawija di Gayo Rendah

KBRN, Redelong: Musim panen kopi di dataran tinggi Gayo tahun 2020 hampir tiba, namun harga jual kopi terbaik dunia tersebut masih rendah karena terhentinya laju ekspor dari dalam ke Luar Negeri akibat pandemi covid-19 yang masih melanda dunia.

Bupati Bener Meriah Sarkawi dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa hal tersebut tidak hanya dialami oleh Daerah itu saja melainkan melanda seluruh wilayah baik di Indonesia maupun Mancanegara.

Menurutnya, turunnya harga kopi dan palawija lainnya dikarenakan barang menumpuk di gudang-gudang yang berada di Bener Meriah, Aceh Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi, Papua, Sumatera Barat dan semua daerah sentral penghasil kopi Indonesia.

“Pasar Internasional belum terbuka luas, rencananya begitu terbuka maka semua hasil pertanian akan langsung membanjiri pasar, sementara pasar kopi tidak sama dengan pasar beras, pasar kopi lebih landai naiknya, karena itu harga kopi kita jatuh cukup tinggi,” jelasnya.

Tidak hanya di Indonesia, kopi disebutkan juga menumpuk di beberapa negara produsen kopi lainnya seperti Brazil dan Kenya.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Bener Meriah Sayutiman kepada RRI Rabu (23/9/2020) menguatkan bahwa hal tersebut saat ini tidak hanya menjadi beban perdagangan Daerah saja melainkan melanda pasar dunia.

“Kita sadar harga kopi sekarang turun, yang bisa kita dan masyarakat lakukan adalah bersabar, jangan karena harga rendah Pemda disalahkan, begitupun kita terus berupaya mencari solusi terbaik serta berdo’a agar pandemi ini cepat berlalu,” ungkapnya.

Diakui, aktifnya kembali resi gudang belum cukup mampu membendung hasil pertanian khususnya kopi dikarenakan minimnya modal dari pihak pengelola sistem resi gudang tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00