Hargamu, Tidak Seindah Merahmu

KBRN, Redelong: Awal musim hujan di dataran tinggi Gayo membawa berkah tersendiri bagi seluruh petani kopi yang ada di Kabupaten berselimut kabut tersebut.

Pasalnya, setiap akhir tahun menjadi ladang berkah bagi masyarakat yang mengantungkan hidupnya dari berkebun kopi.

Salah seorang petani di Bener Meriah Rudi menjelaskan, bulan September sampai Januari merupakan panen raya.

Tetapi hingga hari ini harga kopi merah (gelondong) belum juga menunjukan nilai yang begitu bagus.

“Di Gayo ini setiap akhir tahunnya adalah panen kopi, berbarengan dengan datangnya musim hujan, tetapi kemarin saya jual kopi gelondong, harganya hanya Rp. 6000 perbambunya,”  kata, petani kopi di Bener Meriah, Sabtu (12/9/2020).

Ia berharap kepada pemerintah pusat dan daerah supaya bisa membantu menstabilkan harga seperti semula dikisaran Rp. 10.000 perbambunya.

Aman Susi seorang agen (pengempul) yang beralamat di Pondok Baru, Kecamatan Bandar mengatakan, anjloknya harga disebabkan masih belum tuntasnya wabah corona saat ini dan juga kran Ekspor belum dibuka seluruhnya.

“Informasi sementara ini gara-gara corona harga kopi anjlok, Eksportir tidak bisa mengirim kopinya, jadi imbasnya kena di kami-kami ini (petani) dan juga pedagang,” sebutnya.

Lanjutnya, sebelum panen raya bulan Oktober nanti, pemerintah diminta segera mencari solusi yang terbaik, untuk menyelamatkan nasib petani kopi Gayo.   

     

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00