Rela Tersita Waktu Tidur Hanya untuk Keluarga Tercinta

KBRN, Takengon: Jam sudah menunjukan setengah tiga pagi. Itu artinya Rizal, 35 tahun, warga Blangkolak 2 Takengon harus segera bangun mempersiapkan segala sesuatunya untuk membuat tahu. Utamanya adalah merendam kacang kedelai agar saat hendak digiling pada pagi hari tidak keras lagi. Selain itu mengangkat tahu dari gudang pembuatan menuju kendaraan bak terbuka untuk selanjutnya diedarkan ke pelanggan. Tidak gampang baginya untuk bangun pada tengah malam, terkadang harus dibangunkan istri atau bahkan memasang alarm agar tidak telat mengejar langganan yang sudah menanti di pasar kawasan kota Takengon sebelum subuh tiba.

Bekerja dengan melawan rasa ngantuk dan dinginnya kota Takengon yang mencapai 14”c menjelang pagi hari bukan tanpa alasan. Sebut Rizal pada saat menjelang subuh itulah banyak pedagang yang sudah menanti tahu produksinya, mereka para pedagang akan menjualnya ke seluruh pelosok desa di Aceh Tengah

Pagi pun telah tiba, sinar matahari dan hirup pikuk kendaraan di jalanan sudah mulai ramai. Waktu sudah menunjukan jam 9 pagi. Seluruh tahu miliki Rizal telah habis diantar ke pelanggan. Saatnya kembali ke rumah, memulai memproduksi tahu untuk dijual esok hari.

Proses pembuatan tahu dimulai dengan menggiling kacang kedelai yang tengah malam tadi sudah direndam.

Sementara kacang digiling, persiapan lainnya adalah menyalahan api untuk memasak bubur kacang.

Setelah air dalam bak pemasakan mulai mendidih, proses selanjutnya adalah memasukan bubur kacang dalam bak pemasakan atau kuali berukuran 1 meter, tunggu sampai mendidih dan saring

Berikut penuturan Rizal mengenai proses penyaringan hingga menjadi tahu yang siap diedarkan

“Ini proses penyaringan, kacang yang udah digiling masukan ke wajan, siap itu baru disaring, memisahkan ampas sama sari pati. Udah gitu dikasih obat, terus masuk ke cetakan. Setelah diobati, langsung dibekukan, sekitar dua menit pencetakan, setelah itu hasilnya seperti ini,” ujar Rizal, di release Minggu (26/4/2021).

Dalam sehari Rizal mampu menghabiskan 100 hingga 150 Kg kacang kedelai atau mampu menghasilkan sebanyak 20 sampai 30 papan tahu ukuran 70x70cm.

Kendala yang dihadapi saat ini katanya adalah keterbatasan kacang kedelai dan harganya yang meroket sejak awal tahun 2021 hingga ketersediaan air.

“Kendala paling air, agak sedikit kendala. Karena tahu ini kan butuh banyak air untuk proses buatnya, sama satu lagi bahan pembuatan, kacang kedelai sekarang sulit didapat, kalaupun dapat terbatas,” paparnya.

Pembuatan tahu milik Rizal masih dilakukan secara sederhana. Rizal masih menggunakan kayu bakar untuk proses pemasakan. Kayu selalu dibeli dari masyarakat sekitar atau kenalannya di pasar. Setiap satu mobil L300 kayu dibeli senilai Rp500ribu dan hanya bertahan selama 3 hari.

“Beli dari kawan. Paling tahan 3 hari satu mobil itu, habis beli lagi. Untuk kayu enggaklah susah, cuman memang harus kayu keras, pilihan dia, enggak sembarangan kayu,” jelasnya.

Dalam membuat tahu, Bapak beranak dua ini dibantu oleh dua orang pekerja, yang merupakan warga sekitar.

Dari hasil pembuatan tahu itu, Rizal mengaku bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membayar dua orang pekerjanya itu.

Dari Takengon, Satiran melaporkan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00