Tiga desa di kecamatan Ketol ukir sejarah, dirikan lembaga pendidikan tingkat SMP

KBRN, Takengon: Desa Bah, merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Ketol kabupaten Aceh Tengah.

Desa Bah ini memiliki pengalaman pahit di tahun 2013. Gempa pada 2 Juli 2013 nyaris melenyapkannya.

Hingga akhirnya, desa Bah direlokasi ke daerah yang dianggap aman, sekitar kurang lebih 3 Km dari lokasi awal.

Lembaga pendidikan juga tidak lepas dari relokasi. Memang pada saat itu, hanya lembaga pendidikan SD yang ada.

Delapan tahun berlalu dari gempa, sektor pendidikan masih berdiri kokoh di tingkat SD, sementara SMP dan SMA memang belum ada.

Bagi anak-anak Bah dan Serempah maupun desa Pantan Penyo, terpaksa harus menempuh perjalanan panjang menuju ke lembaga pendidikan tingkat SMP di desa Blangmancung, yang berada di ibukota kecamatan Ketol.

Tokoh masyarakat desa Bah Mude Sedang menuturkan kesulitan demi kesulitan yang dialami anak-anak desa dalam menimba ilmu.

"Fasilitas umum ke Blangmancung itu kan enggak ada, ditambah jalan banyak yang rusak, banyak kali anak kita enggak sekolah, terlampau besar biaya yang dikeluarkan, untuk jajan, untuk beli sepeda motor, minyaknya, makanya banyak yang enggak mampu orang tua, jadi banyak patah tengah (putus sekolah)," ungkapnya.

Tidak ingin generasi penerus bangsa ini hanya menyelesaikan pendidikan SD saja, maka para sesepuh desa Bah, Serempah maupun Pantan Penyo mencoba mencari jalan keluar, agar bagaimana caranya dapat menghadirkan SMP yang mudah di akses anak-anaknya.

Akhirnya, dengan berbagai cara dan upaya, melalui proses yang cukup panjang, tiga desa di kecamatan Ketol tersebut berhasil menghadirkan pendidikan lebih dekat untuk anak-anaknya.

Tepat pada 17 Agustus 2021, lahirlah SMP Negeri 44 Aceh Tengah.

"Kami sangat membutuhkan SLTP. Program ini sudah lama kami nanti-nantikan. Akhirnya karena desa Bah ditengah-tengah desa Pantan Penyo dan Serempah, maka dibangunlah di sini. Pembangunan difasilitasi dari swadaya masyarakat untuk bangunan darurat," timpalnya lagi.

Kini, bangun sederhana terbuat dari papan dan hanya satu ruangan tersebut telah digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Guru yang akan memberikan materi pembelajaran terpaksa harus menunggu di luar hingga guru lain selesai memberi pengajaran.

Jumlah siswa kurang dari 20 peserta. Mereka adalah pelajar yang sebelumnya menimba ilmu di SMP terdekat dengan tempat tinggalnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Tengah Mirwansyah menyampaikan rasa haru dengan perjuangan masyarakat yang bersedia berjibaku membuat lokal darurat untuk menjawab kebutuhan pendidikan di daerahnya.

Pihaknya tidak tinggal diam dengan kesungguhan masyarakat di daerah bekas gempa Gayo itu. Dinas Pendidikan berupaya menghadirkan pembangunan infrastruktur pendidikan.

"Itu sementara masyarakat yang gotong royong untuk membuat satu lokal. Dari kita berupa terus, paling tidak tiga lokal, karena siswanya sudah ada," paparnya.

Dirinya berpesan agar siswa menjadi termotivasi untuk belajar dan berkarya dengan sudah adanya lembaga pendidikan tingkat SMP, berdekatan dengan tempat tinggal siswa itu sendiri.

"Letak sekolah tidak selalu mempengaruhi kualitas dari pada siswa, tergantung kepada minat dan kesungguhan dari siswa untuk belajar," demikian Mirwansyah

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar