Penanganan Gajah di Bener Meriah Telan Biaya Hingga Rp 8 Miliar

KBRN, Redelong: Walau Pemerintah telah berupaya menangani gajah liar agar tidak masuk ke pemukiman penduduk di Kabupaten Bener Meriah, nyatanya hewan dilindungi itu masih saja tetap keluar masuk.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bener Meriah Anwar Sahdi dalam dialog di RRI Takengon pada Jumat pagi menyampaikan konflik gajah dan manusia telah terjadi sejak tahun 2007.

Berbagai upaya agar hewan berbadan besar tersebut tidak lagi masuk ke pemukiman penduduk Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah telah dilakukan, akan tetapi upaya yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil seperti diharapkan.

Anggaran yang koyak untuk atasi konflik gajah dan manusia itu sejak tahun 2007 hingga 2020, diperkirakan mencapai Rp 8 Miliar.

“Pembiayaan pemerintah daerah dari 13 tahun ini hamper Rp 7 atau Rp 8 Miliar untuk pembiayaan penanganan gajah yang sampai saat ini terus masih konflik dengan kita,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bener Meriah Anwar Sahdi, Jumat (4/12/2020).

Anwar menyebut seluruh strategi telah dilakukan antisipasi gajah masuk pemukiman, diantaranya membuat parit isolasi atau barrier, pemasangan kawat dialiri listrik sampai melakukan perubahan pola tanam petani dari tanaman yang disukai gajah menjadi tidak disukai gajah, akan tetapi tetap saja masih belum berhasil dengan baik.

“Tetap saja, konflik ini masih tetap. Tapi tidak baik kalau kita katakan sudah habis cara, namun alternative terus kita cari,” timpalnya.

Dalam kesempatan itu Anwar juga menyiggung tugas dalam penanganan satwa merupakan kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Namun karena konflik terjadi, mau tidak mau BPBD harus masuk untuk melakukan penanganan darurat.

Sebelumnya warga di Negeri Antara, Riskanadi mengakui telah ada upaya menghalau gajah liar masuk pemukiman dengan memasang kawat kejut, namun kurang perawatan sehingga kawat kejut tersebut dililit akar dan rumput, bahkan sebagian tiang untuk kawat busuk.

"Kawat sudah terpasang, pertama sudah ada arus lah, tapi kawat dililit rumput sebelumnya selesai pengerjaan, kan cukup lama itu karena 10 km. Selesai pasang yang kawat pertama dipasang udah dililit rumput akar-akar, dan tiang pun ada yang busuk, kan ga bisa dipasang arusnya, makanya masuk lagi gajah," jelasnya.

Warga menyayangkan kurangnya perawatan kawat kejut yang menjadi harapan masyarakat agar gajah liar tidak masuk pemukiman.

“Kan sayang itu kan banyak duit (habis) tinggal pembersihan saja dan mengganti sebagian tiang enggak bisa dilakukan, aneh juga,” pungkasnya.

Foto Antara

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00