Perkuat Implementasi Kampus Merdeka dan Moderasi Beragama, IAIN Takengon Berkolaborasi dengan UIN Sumatera Utara

KBRN, Medan: Dalam rangka penguatan implementasi sejumlah kebijakan terkini terkait pengelolaan dan penyelenggaran pendidikan tinggi, IAIN Takengon terus berupaya melakukan sejumlah terobosan, salah satunya melalui pengatan kolaborasi dengan berbagai institusi.

Pada hari Kamis, tanggal 2 Desember 2021, bertempat di ruang sidang Rektor UIN Sumatera Utara, Rektor IAIN Takengon, Dr. Zulkarnain, M.Ag, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA.

Rektor IAIN Takengon mengungkapkan bahwa MoU kali ini merupakan Nota Kesepahaman ke-3 yang telah dijalin antara IAIN Takengon yang sebelumnya masih bernama STAIN Gajah Putih Takengon.

MoU pertama ditandatangani antara Ketua STAIN Gajah Putih Takengon dengan Rektor UIN Sumatera Utara pada tahun 2015 sebagai salah satu persyaratan pembukaan Program Magister.

MoU ini menjadi salah satu persyaratan dalam pengajuan permohonan Program Magister yang mempersyaratkan adanya 6 orang Doktor, padahal saat itu di STAIN baru terdapat 2 orang Doktor.

Melalui usaha yang sangat berliku dan adanya dukungan berbagai pihak, pada bulan Maret 2015, Kementerian Agama akhirnya menerbitkan izin penyelenggaraan Program Magister di STAIN Gajah Putih Takengon.

Nota Kesepahaman tersebut ditindaklanjuti dengan penyelenggaran perkuliahan Program Magister yang mendatangkan Dosen dari UIN Sumatera Utara sebagai Dosen Tamu dan Penguji pada seminar proposal dan sidang munaqasyah Tesis Mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam di STAIN Gajah Putih Takengon.

Pada tahun 2018, ditandatangani MoU ke-2 terkait penguatan kualifikasi Akademik Dosen STAIN Gajah Putih Takengon dengan pemberian akses khusus kepada sejumlah 13 orang Dosen Tetap untuk melanjutkan pendidikan Doktor di UIN Sumatera Utara.

Program yang pada tahun pertamanya didukung penuh pembiayaannya oleh Badan Baitul Mal kabupaten Aceh Tengah ini telah menghasilkan penambahan 12 Dosen IAIN Takengon dengan kualifikasi akademik Doktor pada tahun 2020.

Lebih lanjut, Dr. Zulkarnain, M.Ag., mengemukakan bahwa MoU penguatan kualifikasi akademik Dosen tersebut masih berlanjut ditandai dengan terdapatnya 9 orang Dosen IAIN Takengon yang saat ini sedang berada pada tahapan penyelesaian program Doktoral di UIN Sumatera Utara. 

Rektor IAIN Takengon juga mengharapkan agar Nota Kesepahaman yang ditandatangani hari ini akan ditindaklanjuti oleh organ yang ada pada IAIN Takengon dan UIN Sumatera Utara.

Secara lebih khusus, Rektor IAIN Takengon mengharapkan agar kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang saat ini menjadi salah satu prioritas pemerintah dapat dijewantahkan.

Menurut amatannya, respon PTKIN terhadap kebijakan MBKM masih sangat lamban dan belum teraplikasi dengan baik. Salah satu penyebabnya karena operasionalisasi kebijakan tersebut belum sepenuhnya terumuskan dan dipahami secara memadai oleh sivitas akademika.

Melalui kolaborasi yang dijalin antara IAIN Takengon dan UIN Sumatera utara diharapkan akan terjadi percepatan implementasi kebijakan tersebut pada kedua institusi.

Pada kesempatan berikutnya, Rektor UIN SU mengungkapkan bahwa Nota Kesepahaman ini menjadi tanda mulai tumbuhnya kesadaran di kalangan perguruan tinggi mengenai pentingnya kolaborasi.

Tidak ada satu perguruan tinggipun yang mampu menghadapi tantangan dan dinamika perubahan secara sendiri. Diperlukan kerjasama yang saling menguatkan dan saling menguntungkan antara perguruan tinggi dan institusi lainnya.

Pada sisi lain, kerjasama yang dibangun diharapkan mampu menghasilkan penguatan sumber daya manusia dan kontribusi kelembagaan dalam menjawab berbagai tantangan.

Secara khusus, Rektor UIN Syahrin Harahap mengungkapkan pentingnya penelitian kolaboratif yang melibatkan sumber daya dua institusi untuk mengungkap dan mengkounter teori atau temuan yang dirasa kurang merepresentasikan pandagan yang tepat.

Secara lebih spesifik, Rektor mengungkapkan penelitian dan publikasi tentang moderasi beragama di kedua wilayah ini (Aceh dan Sumatera Utara) cenderung memberi label bahwa kedua daerah ini dinilai memiliki indeks intoleransi yang masih tinggi.

Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang lebih intensif tentang isu-isu tersebut. Pada sisi lain, Rektor juga mengungkapkan pentingnya dilakukan penelitian kolaboratif dan lebih intensif tentang titik peradaban Islam di kedua wilayah, khususnya dengan ditetapkannya Barus sebagai titik nol peradaban Islam di Nusantara.

Prof. Syahrin, mengungkapkan komitmen dan memberikan instruksi langsung kepada bidang-bidang terkait di UIN Sumatera Utara untuk memfasilitasi dan menindaklanjuti butir-butir Nota Kesepahaman tersebut dan dapat dilanjutkan dengan kegiatan riil.

Setelah penandatangan tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Kelembagaan dan Kerjasama IAIN Takengon, Dr. Al Musanna, M.Ag., mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan penandatangan Perjanjian Kerjasama antar Fakultas dan lembaga kedua institusi ini.

Melalui perjanjian kerjasama tersebut, diharapkan tindakan-tindakan nyata yang berdampak langsung pada penguatan institusi dan sumber daya manusia, khususnya di IAIN Takengon dapat terwujud.

Rel

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar