4 Perkara di tahun 2021 diselesaikan secara Restorative Justice oleh Kejaksaan Negeri Kepulauan Sangihe

KBRN Tahuna : Kejaksaan Negeri Kepulauan Sangihe berhasil menyelesaikan kasus tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga  secara Restorative Justice. Penyelesaian kasus secara Restorative Justice di Kabupaten Sangihe terbilang langkah dan jarang dilakukan, ini membuat Haruh  Teguh Salama pecah, setelah perkara yang menimpanya oleh Kejari Kepulauan Sangihe, telah diselesaikan secara Restorative Justice, Jumat (03/12/2021). Kajari Kepulauan Sangihe Eri Yudianto SH MH kepada sejumlah wartawan mengatakan penyelesaian perkara secara Restorative Justice harus memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

“ Kita kemarin sudah menyelesaikan perkara yang menimpah Teguh Samala secara Restorative Justice, ini dapat dilakukan jika terpenuhi semua ketentuan sebagai persyaratan. “  Restorative Justice adalah merupakan alternatif dalam sistem peradilan pidana, dengan mengedepankan pendekatan integral antara pelaku dengan korban dan masyarakat, sebagai satu kesatuan untuk mencari solusi serta kembali pada pola hubungan baik dalam masyarakat.   Teguh yang merupakan pelaku tindak pidana KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), telah melanggar pasal 44 ayat 1 UU no 23 tahun 2004, melakukan penganiayaan kepada istrinya Lusiana.   Perbuatan itu dilakukannya, didasari adanya rasa cemburu kepada Lusiana  setelah melihat handphonenya, berisi chatingan dengan laki-laki lain, pada tanggal 10 Desember 2020. Ditambahkan Kajari  Eri Yudianto, setelah Jaksa Fasilitator, memfasilitasi perdamaian antara kedua belah pihak, pada 23 Nopember 2021 di kantor Kejari Sangihe, dengan menghadirkan Tokoh Masyarakat, Camat, Lurah Santiago, Tokoh Agama Marslem Pulumbara, Penyidik, keluarga korban dengan tersangka, akhirnya ditemukan kata sepakat untuk berdamai antara kedua belah pihak.

“ Disini dalam penyelesaian perkara secara Restorative Justice, adanya kesepakatan kedua belah pihak untuk berdamai. “  Atas adanya kesepakatan perdamaian tersebut, selanjutnya pada tanggal 1 Desember 2021, JAM PIDUM menyetujui perkara itu diselesaikan dengan Restoraktif Justice.   Kajari menyampaikan bahwa keputusan Restorative Justice terhadap Teguh Salama, dengan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan nomor :Print-410/P.1.13/Eku.2/12/2021.

 " Dasar penghentian penuntutan, didasarkan atas adanya perdamaian antara tersangka dan korban. Syarat formal lainnya bahwa tersangka belum pernah dihukum dan diancam hukuman kurang dari 5 tahun," jelas Yudianto.   Keadilan Restorativ merupakan upaya untuk mengembalikan pada keadaan semula, yang dulunya hidup rukun. Namun, karena tersangkut perkara pidana, sehingga terdapat kerenggangan antara keduanya dan upaya Restorative Justice, mengembalikan kehidupan diantaranya kembali rukun bersama.   "Di Tahun 2021 ini, Kejaksaan Negeri Kepulauan Sangihe telah menyelesaikan perkara secara Restorative Justice sebanyak 4 perkara. "  Pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar