Belasan Warga Kandang Sapi Sragen Mundur dari PKH, Kisahnya Bikin Trenyuh

Rumah Sukarman warga Sragen yang mundur dari PKH.jpg
Kantor Kepala Desa Kandang Sapi Sragen.jpg

KBRN,Surakarta: Belasan keluarga di Kabupaten Sragen mengundurkan diri dari Program Keluarga Harapan (PKH) Kementrian Sosial. Bulan Ramadhan ini Allah SWT mengangkat derajatnya menjadi keluarga yang berkecukupan.

Sejumlah 12 keluarga di Kabupaten Sragen yang sebelumnya dibawah garis kemiskinan ini menjadi orang dibilang cukup. Bahkan hampir beberapa tahun terakhir menggantungkan hidup dari Program Keluarga Harapan (PKH) Kementrian Sosial. 

Mereka bukan orang dengan ekonomi mapan, tapi penjual cilok, gendar pecel, buruh, usaha toko kelontong dan bahkan ada seorang difabel. Mundurnya 12 warga penerima PKH di desa Kandang Sapi Kecamatan Jenar ini disampaikan pendamping PKH Desa Kandangsapi, Suryani (29) belum lama ini.

Suryani mengatakan, mereka mundur secara sukarela secara bertahap sejak akhir 2019 hingga awal 2020setelah ekonominya mapan. Pengunduran diri 12 warga itu sudah langsung dilaporkan dan diproses. 

"Di Desa Kandang Sapi ada 12 yang mengajukan mundur dari PKH. Mereka merasa sudah mampu punya usaha dan sebagian dibantu anaknya. Tapi ada yang merasa sudah tidak pantas dan masih ada yang lain lebih membutuhkan," jelas Suryani Jumat (15/5/2020). 

Salah satu penerima PKH yang mundur itu bernama Sukarman (47) warga Dukuh Kedungbulus RT 13, Desa Kandangsapi. Dari pantauan rumahnya juga masih sederhana dengan plesteran kasar. Tak ada perabot istimewa di dalam rumah. 

Dia memiliki usaha warung dan  jualan bensin serta perabotan untuk berjualan cilok atau pentol keliling. Sukarman memiliki dua anak dari rumahtangganya bersama (50). Sihwati sendiri rupanya juga tercatat menyandang disabilitas tunawicara ringan. 

“Saya dapat PKH sejak 2016. Waktu itu ya masih serabutan. Dulu setiap tiga bulan dapat bantuan Rp 375.000. Usaha jualan pentol baru agak ramai baru beberapa tahun ini. Istri saya warungan di rumah dan jualan bensin," ungkapnya.

Sukarman mengaku malu menerima bantuan, dan ingin bantuan itu dimanfaatkan kepada orang yang lebih membutuhkan.

"Sekarang Alhamdulillah usaha mulai jalan dan bisa mandiri. Saya rasa sudah agak kecukupan Mas, meski hanya punya jualan kecil-kecilan,” papar Sukarman bersama istrinya.

Senada dengan Sukarman, juga diungkapkan Wagiyono (43) warga Kandangsapi RT 9. Meski hanya kerja serabutan dan istri hanya jualan gendar, ia sudah bulat untuk mundur dari penerima bantuan PKH.

"Saya bersama istri sudah bulat untuk mundur dari PKH ini. Saya hanya buruh istri jualan gendar," ucapnya.

Keputusan mundur sukarela itu juga ditandai dengan pelepasan stiker PKH atau stiker miskin di rumah keduanya. Sementara 10 warga lain yang juga ikut mundur dengan alasan yang sama. Mereka sudah merasa mampu dan tak pantas mendapatkan bantuan tersebut.

Padahal Desa Kandangsapi termasuk salah satu desa tertinggal di Sragen Utara yang berkarakter gersang dan sulit air. Desa ini berada di perbatasan Sragen dengan Jatim serta selalu kekeringan tiap kemarau tiba. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00