FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Dua Kelurahan di Solo Mengajukan Desa Tangguh Bencana Mandiri

Perwakilan Relawan dan Masyarakat Desa Tangguh Bencana Kota Solo mengikuti sosialisasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Solo. Dok BPBD

KBRN, Surakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta menyelenggarakan sosialisasi Desa Tangguh Bencana (Destana) kepada enam kelurahan di Rumah Dinas Wakil Walikota Surakarta, Selasa (24/5/2022) sore. Sosialisasi diikuti perwakilan dari enam kelurahan yang ditunjuk sebagai Destana tahun ini. 

Enam kelurahan tersebut yakni, Gandekan, Pajang, Joyotakan, Sumber, Jebres, dan Banyuanyar. Dua kelurahan terakhir mengajukan sebagai Destana mandiri, dimana seluruh pembiayaan ditanggung oleh kelurahan tersebut. 

Berdasarkan Peraturan Kepala BNPB No 1 Tahun 2012, Destana merupakan desa/kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan, jika terkena bencana. 

Dalam sambutannya, Kepala Pelaksana BPBD Kota Surakarta, Nico Agus Putranto  mengatakan, terjadinya bencana tidak bisa diprediksi. Bulan Mei yang biasanya sudah memasuki musim kemarau, justru masih kerap terjadi hujan. 

"Tingkat bahaya di Kota Surakarta yang sangat besar terjadi karena kepadatan penduduk yang besar. Bencana sebenarnya masih kategori ringan. Tapi karena kepadatan penduduk yang padat, kategorinya menjadi besar karena korbannya menjadi banyak," terang Bpk Nico. 

Dia menyebut, personel evakuasi yang dimiliki BPBD hanya 15 orang. Ketika terjadi bencana di sejumlah titik, maka yang datang hanya satu atau dua orang per lokasi. 

Personel BPBD kemudian melakukan asesmen di lokasi bencana tersebut, antara lain wilayah mana yang tergenang, berapa RT, berapa rumah, dan jumlah korban. Selanjutnya, personel BPBD melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan wilayah tersebut, mencakup ketua RT/RW dan Lurah. 

Dia juga meminta agar ketua RT/RW cepat berkoordinasi dengan pemangku kepentingan kelurahan apabila warganya ada yang menjadi korban bencana. Terlebih, jika bencana terjadi di banyak titik, sehingga kelurahan lebih cepat mengkoordinasi agar cepat tertangani.

Kalak BPBD menjelaskan, basis penanggulangan bencana sekarang berbasis masyarakat. Jika dulu saat terjadi bencana, masyarakat menunggu untuk ditolong, maka sekarang masyarakat menjadi penolong. 

"Karena pengalaman bencana kecil atau besar yang menolong pertama pasti tetangga. Makanya kami sosialisasi ini agar bisa berdiskusi program-program yang paling ideal untuk penanganan bencana saat ini, seperti program Destana," jelasnya.

Menurutnya, BPBD Surakarta akan menggalakkan program Destana. Tahun lalu, ada tiga kelurahan yang sudah dicanangkan sebagai Destana, yakni Mojo, Semanggi, dan Kedunglumbu. Nantinya, seluruh kelurahan akan dicanangkan sebagai Destana. 

"Komponen-komponen di tiga kelurahan itu sudah berjalan. Minimal bisa memberikan pertolongan awal apabila terjadi bencana dari potensi-potensi mereka sendiri. Destana perlu kemampuan, kemandirian, kekompakan dan gotong royong," paparnya.

Pemaparan lebih lanjut mengenai Destana dijelaskan oleh Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana BPBD Surakarta, Bpk Sularso S.STP M.Si, dan Penyuluh Bencana BPBD Surakarta, Innez Kartika Sari S.Sos. 

Nantinya, enam kelurahan tersebut akan dilatih dan diberikan simulasi bencana. Mereka juga diberikan pemahaman mengenai potensi bencana di wilayah masing-masing. Selain itu, sebelum dicanangkan sebagai Destana, enam kelurahan itu wajib membuat dokumen perencanaan penanggulangan bencana, membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), serta membentuk tim relawan. Rencananya, pencanangan Destana untuk enam kelurahan tersebut akan digelar pada 14 Juni mendatang. BPBD/MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar