FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Akui Peta Rawan Banjir Bergeser, Walikota Gibran Janjikan Parapat dan Normalisasi Sungai

Walikota Gibran Rakabuming Raka.

KBRN, Surakarta: Wali Kota Gibran Rakabuming Raka mengakui kini peta banjir di Kota Bengawan mulai bergeser ke Kecamatan Serengan dan Laweyan. Setelah sebelumnya banjir klasik terjadi di Kecamatan Jebres dan Pasar Kliwon. 

Hal ini berkaca dari musibah banjir pada pada musim hujan ini yang terjadi di sebagian wilayah Laweyan dan Serengan. Keduanya disebabkan oleh luapan Kali Jenes yang berhulu dari daerah lereng Gunung Merbabu Boyolali.

Sementara sebelumnya, karakter banjir di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres merupakan dampak dari luapan Kali Pepe dan Sungai Bengawan Solo. 

Gibran meminta masyarakat yang tinggal di dekat sungai mewaspadai potensi banjir sebagai dampak dari cuaca buruk hingga dua bulan ke depan. Karena kirimin air dari wilayah hulu sungai seperti dari Boyolali juga tinggi.

“BBWSBS telah membangun parapet di Kali Pepe dan Sungai Bengawan Solo. Sehingga, luapannya tidak sampai ke permukiman seperti beberapa tahun lalu. Kemudian, banjir akibat luapan Kali Gajah Putih yang dulu juga sering terjadi, mulai tidak ada laporan. Ini juga dampak pengerukan atau normalisasi sungai," kata Gibran kepada wartawan di Balaikota, Senin (24/1/2022).

Pihaknya tengah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) untuk mengatasi persoalan tersebut salah satunya dengan normalisasi sungai dan pembangunan Parapat.

"Kami tengah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) untuk mengatasi persoalan tersebut,” sambung putra Sulung Presiden Jokowi itu.

Terpisah, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Surakarta Nico Agus Putranto, mengatakan solusi penanganan banjir di Kali Jenes, dan Premulung di antaranya normalisasi atau pengerukan sedimentasi sungai dan pembangunan parapet atau talud. Permasalahan lain menurut Nico banyaknya bangunan yang berdiri di tepi sungai bahkan terkadang terjadi longsor.

"Dan memang banyak rumah dan bangunan yang berdiri dekat sungai. Bahkan ada yang menggunakan talud itu untuk pondasi rumah. Kita koordinasi DPU-PR dan BBWSBS," ujar Nico kepada RRI, Senin.

Sebelumnya Tokoh Masyarakat Laweyan Mohammad Ali Amin mendesak Pemerintah Provinsi dan BBWS agar segera melakukan normalisasi sungai Jenes dan Premulung. Menurut anggota Fraksi PAN DPRD Surakarta permasalahan banjir ini hanya bisa selesai setelah ada pengerukan sendimen dan pembangunan Parapat. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar