FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Polisi Mulai Proses Hukum Pemasang Jebakan Tikus Listrik

Polisi menyita kabel terbuka (kawat) yang dipasang petani sebagai alat untuk perangkap tikus yang diberi aliran listrik. Dok Istimewa

KBRN, Sragen: Polres Sragen sigap melakukan penertiban jebakan tikus listrik yang dipasang para petani di area persawahan. Sejumlah petani sudah diperiksa lantaran mengabaikan peringatan petugas.

Tidak hanya itu tim gabungan dari Kepolisian, PLN dan Pemkab Sragen juga intensif melakukan penertiban jebakan tikus listrik. Kemudian petugas juga terus melakukan sosialisasi dan woro-woro.

Kabag Ops Polres Sragen Kompol Dudi Pramudya mengatakan, saat ini sudah ada pemasang jebakan tikus berlistrik di Kecamatan Ngrampal dan Sidoharjo yang tengah menjalani proses hukum.

”Kita periksa terlebih dahulu, meminta keterangan saksi. Jika memenuhi unsur pidana akan kami lanjutkan ke penyelidikan,” jelasnya di sela penertiban jebakan tikus listrik di Ngrampal, Kamis (20/1/2022).

Saat melakukan razia jebakan tikus di Desa Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, polres berkolaborasi dengan PLN, kodim dan pemerintah daerah menindak tegas pemasang jebakan listrik.

”Kemarin sudah sosialisasi, pasang MMT dan woro-woro kepada masyarakat. Sekarang kami lakukan penertiban, bahkan menyita jebakan tikus berlistrik di sawah,” ujarnya, Kamis (20/1/2022).

Kompol Dudi menyampaikan jebakan tikus listrik sangat membahayakan. Yakni berupa kawat bendrat yang dialiri listrik dipasang mengelilingi sawah. Jika terkena manusia akan mengakibatkan kematian.

”Semoga masyarakat menyadari. Boleh melaksanakan pembasmian tikus tapi dengan cara yang legal. Artinya tidak membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Karena jika ada korban bisa dikenakan pidana. Karena kelalaian sehingga mencelakakan orang. Ancaman hukuman 5 tahun penjara,” tandasnya.

Sementara Camat Ngrampal Joko Hendang Murdono menyampaikan, pihaknya terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Pihaknya meminta kepala desa (kades) agar menginisiasi pemberantasan hama tikus yang ramah lingkungan sesuai yang dianjurkan dinas pertanian.

Dinas pertanian siap memberikan kebutuhan para petani terkait pembasmian hama tikus. Saat ada gerakan pembasmian hama tikus juga akan dilibatkan.

“Secara prinsip dinas tidak ada kendala untuk sarana-prasarana maupun obat-obatan untuk pembasmian hama tikus. Baik belerang dan sebagainya terutama cara-cara lain yang lebih aman,” bebernya.

Sebelumnya Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi menegaskan petani yang masih nekat memasang jebakan tikus dinilai melanggar undang undang ketenaga listrikan, Undang-undang nomor 30/2009 pasal 50 ayat 1.

Di dalamnya menerangkan pemasangan instalasi listrik tanpa disertai dengan sertifikat layak operasi akan di pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda 500 juta. Dengan demikian tidak perlu menunggu adanya korban yang meninggal dunia. Ketika ditemukan suatu rangkaian arus listrik dipergunakan untuk membasmi tikus akan dilepas.

”Jadi kalau nekat udah dipenjara masih di denda. Itu sudah melakukan pelanggaran pidana. Tentunya ini akan kita tindak demi keselamatan masyarakat,” bebernya.

Sementara itu sebagai upaya membasmi tikus secara aman, Polres Sragen juga membantu petani dalam pemasangan rumah burung hantu di areal persawahan. Dengan menggunakan burung hantu diharapkan ini bisa menjadi solusi. "Karena burung hantu adalah predator alami hama tikus yang menjadi permasalahan petani," ujar Ardi. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar