FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Bikin Tanah Jakarta Turun, Kementerian PUPR Minta PDAM Hentikan Penggunaan Air Tanah

KBRN Surakarta: Ketahanan Iklim dan RPAM Menjamin Pasokan Air Aman tahun 2024 menjadi fokus bahasan Musyawarah Antar-Air Minum Nasional (Mapamnas) ke XIV Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) di Solo, Rabu-Kamis (8-9/12/2021).

Sejalan dengan tema tersebut perlunya mengurangi penggunaan air tanah sebagai sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat. 

Dirjen Cipta Karya Kemen PUPR Diana Kusumastuti menyampaikan, penggunaan air tanah terus menerus akan memiliki dampak kerusakan lingkungan utamanya penurunan permukaan tanah seperti yang terjadi di Jakarta. 

"Kalau ini (penggunaan air tanah) terus dilakukan maka muka air tanah akan mengkhawatirkan seperti Jakarta. Penggunaan air tanah kalau bisa dihindarkan dan digantikan dengan perpipaan," terang Diana Kusumastuti, seusai menjadi keynote Speaker dalam Mapamnas di The Sunan Hotel Solo.

Menurut Diana, pelayanan perpipaan PDAM agar ditingkatkan karena saat ini progresnya baru sekitar 20 persen. Diana khawatir jika masyarakat ini terus terusan menggunakan air tanah maka dampak panjangnya penurunan permukaan tanah. 

Diana juga berharap PDAM melakukan pengelolaan air baku secara profesional, mengurangi kebocoran. Termasuk dalam pengelolaan finansial agar dapat membantu Pemerintah daerah bukan justru sebaliknya.

"Kami harapkan PDAM ini melakukan pengelolaan air minum ini secara baik baik kebocoran dikurangi kebocoran dan finansial, harusnya untung dan membantu daerah. Jangan malah Pemda subsidi terus."

Ketua Umum Perpamsi Rudie Kusmayadi menjelaskan, tema mengenai dampak perubahan iklim sengaja diambil mengingat kondisi air baku yang ada saat ini. Dampak perubahan iklim itu indikatornya air baku, di mana-mana semakin ke sini bukan semakin baik, tetapi dari sisi kualitas kurang bagus. 

Kualitas yang dimaksud yakni tingkat kekeruhan air baku yang akan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Di mana tingkat kekeruhannya justru semakin tinggi. Dari sisi kekeruhan tinggi, dampaknya pada keperluan bahan pengolahan chemical," urainya.

Rudie melanjutkan, Indikator yang kedua, yakni adanya kondisi cuaca yang semakin tidak jelas. Anomali cuaca ini semakin berpengaruh terhadap pengolahan air baku yang ada. Kedua indikatornya adalah cuaca mulai tidak jelas, banyak di daerah yang memiliki banyak air tapi tidak bisa dipakai.

"Kemarau air bisa dipakai tapi kurang, hujan, air banyak kualitas jelek. Rudie berharap dengan tema yang diangkat tersebut, kedepannya ketersediaan air baku tetap aman," pintanya. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar