Tradisi Unik Keraton Surakarta Sambut Lailatul Qadar Ditiadakan, Warga Jatipuro Tetap Gelar Malam Selikuran

Warga tengah meyiapkan tumpeg untuk menyambut Lailatul Qaadar.jpg

KBRN,Surakarta: Memasuki 10 hari terakhir Bulan Ramadhan masyarakat Solo memiliki tradisi unik dalam menyambut malam Lailatul Qadar. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, biasanya rutin menyelenggarakan tradisi Malam Selikuran pada hari ke 20 Ramadhan.

Malam Selikuran dilakukan dengan mengarak tumpeng disertai lampu ting. Kirab yang dimulai dari Kori Kamendungan menuju Masjid Agung Surakarta itu juga membawa seribu tumpeng, nasi gurih dan lauk pauk yang diusung para abdi dalem. Kirab berlangsung selepas salat tarawih.

Tradisi menyambut malam Lailatul Qadar atau sebagai malam seribu bulan. Lailatul Qadar memiliki beberapa keutamaan, seperti nilai ibadah dan kebaikan yang ada dimalam itu sebanding dengan seribu bulan lamanya.

Inilah salah satu momentum yang paling ditunggu umat islam yang menjalankan puasa Ramadhan. Namun pada Ramadhan kali ini tradisi Malam Selikuran yang jatuh pada Rabu (13/5/2020) malam, terpaksa ditiadakan. Tidak lain karena masih dalam suasana wabah Covid 19.

Upacara adat Malam Selikuran Keraton Surakarta tahun lalu.Dok Istimea

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta GKR Koes Moertiyah Wandansari menyampaikan, menyambut Lailatul Qadar dalam tradisi Keraton Surakarta biasanya melakukan upacara adat Wilujengan Tumpeng Sewu. Disertai dengan arak-arakan ting dan prajurit dari Keraton menuju Masjid Gede (Agung). Dia mengakui, tradisi menyambut malam Lailatul Qadar tahun ini ditiadakan, karena pandemi Korona.

"Namun karena kondisi pandemi Covid-19, maka kita seluruhnya hanya bisa melakukan doa di rumah masing-masing," ungkap perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu, Rabu (13/5/2020).

Pangageng Sasana Wilapa Keraton Surakartsa itu juga mengajak seluruh umat Islam tetap bersyukur memasuki hari 20 hari Bulan Puasa. Dengan menanti turunya malam Lailatul Qadar. "Semoga Allah SWT, menyirnakan Covid-19 dari muka Bumi ini, dan kita umat manusia bisa menjalankan ibadah dan kehidupan yang baik atas ridhonya," sambungnya.

Warga Jatipuro menggelar wilujengan Malam Selikuran sambut Lailatul Qadar

Kendati Keraton Surakarta meniadakan tradisi kirab tumpeng sewu, sebagian masyarakat di pedesaan masih tetap menyelanggaran Tradisi Malam Selikuran. Masyarakat menganggap, malam 21 memiliki maknya yang spesial. Tradisi Malam Selikuran adalah budaya sekaligus religi yang syarat dengan makna, dengan memperbanyak ibadah malam.

Seperti yang dilakukan Warga RT 32 Dukuh Kendal Kidul Jatipuro, Karanganyar. Mereka tetap menyambut malam Lailatul Qodar dengan menggelar Wilujengan Nasi Tumpeng di rumah Ketua RT.

Selain nasi tumpeng, juga dibawa nasi gurih (uduk) dengan lauk khas Rempah. Makanan terbuat dari daging cincang yang dicampur dengan parutan kelapa yang ditempatkan pada takir. Adanya juga ayam ingkung dan juga pisang raja sebagai kelengakapan wilujengan.

Kaur Kesra Desa Jatipuro Imam Hambali Sumarno mengatakan, sodakoh Malam Selikuran ini wujud syukur kepada Allah SWT. Umat Islam masih diberikan kesempatan bertemu 10 hari terakhir Bulan Ramdhan.

"Menyambut Malem Selikuran ini dengan Rempah menjadi wasilah. Meminta kepada Allah SWT, mudah-mudahan diberikan kekuatan tambah iman dan ibadah dengan baik. Yang utama kita mendapatkan wahyu Lailatul Qadar," ungkap Imam Hambali.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00