Parade Kebaya Semarang, Edukasi dan Pelestarian Budaya Adiluhung

KBRN Surakarta: Lenggak-lenggok wanita berkebaya dalam acara Parade Kebaya di Kedai Tiga Nyonya di Jl.Puri Anjasmara Semarang Sabtu (14/12/2019) menyita perhatian pengunjung. Pasalnya di tengah moderenisasi seperti saat ini trend busana pun ikut berkembang dengan seiring perubahan zaman.

Rilis dari Lembaga Dewan Adat Karaton menyebutkan, acara ini di gagas oleh Komunitas Diajeng Semarang (KDS). Mereka sekumpulan pecinta kebaya dan batik serta mengampanyekan pemakaiannya dalam aktivitas keseharian. Acara di buka dengan parade kebaya yang diperagakan oleh puluhan wanita berkebaya berjalan diatas panggung acara. Dilanjutkan dengan lomba berkebaya. 

Beberapa juri di hadirkan untuk menilai dalam acara lomba berkebaya tersebut, di antaranya Ibu Wakil Walikota Semarang Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu. Selain itu juga menghadirkan ahli busana Jawa dari Karaton Surakarta, GKR Wandansari atau yang biasa di sapa dengan Gusti Moeng. 

Selain lomba dan parade kebaya,  acara juga dilanjutkan dengan edukasi makna-makna dan nilai-nilai adiluhung kebaya. Kegiatan ini untuk memupuk pemahaman berkebaya yang di sampaikan oleh Gusti Moeng. 

Putri PB XII ini mengajak masyarakat untuk melestarikan busana kebaya yang berasal dari  Jawa yang sudah mendunia ini.  Salah satunya adalah menggunakan kebaya dalam keseharian. Dia juga menyampakaian pakem-pakem kebaya yang berada di dalam Karaton Surakarta.

"Semua ada pakemnya, mana yang boleh di gunakan dan mana yang tidak boleh di gunakan dalam berkebaya di dalam keraton," ujar Gusti Moeng. 

Menurut Gusti Moeng, kebaya untuk di luar Karaton bebas, bisa di kombinasikan dengan batik, rok maupun celana mengikuti trend fashion yang berkembang. "Paling tidak berkebaya bila datang ke acara resepsi," Imbuhnya.

Acara yang berlangsung meriah di tutup dengan penyerahan piala trophy kepada pemenang lomba berkebaya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00