FOKUS: #PILKADA 2020

Pasien Covid-19 Bersitegang dengan KPU, Pencoblosan Diperpanjang 15 Menit

KBRN, Sragen: Pemungutan suara di tempat isolasi mandiri pasien Covid-19 gedung Technopark Sragen, Rabu (9/12/2020) siang sempat memanas. Warga yang isolasi mendesak KPU agar tetap bisa nyoblos.

Pantauan RRI, saat Ketua KPU Sragen Minarso memperhatikan sementara pemungutan suara pada pukul 13.03 WIB. Karena batas waktu pencoblosan maksimal hanya sampai pukul 13.00 WIB. Sementara itu sudah mundur 03 menit dari waktu normal.

Sontak belasan warga yang sudah mengantre di tempat pemungutan suara langsung protes. Warga yang terancam akan pulang jika tidak keluar dari nyoblos di gedung Technopark. 

"Pokoknya kalau tidak boleh nyoblos di sini saya mau pulang. Barangkali di TPS saya masih bisa. Pokoknya saya mau pulang," teriak salah seorang warga isolasi mandiri. 

Warga juga menyoal molornya pencoblosan yang diselenggarakan KPU di gedung Technopark. Sehingga sampai waktu habis belum semua warga karantina yang memiliki hak pilih bisa mengalirkan hak pilihnya.

"Kenapa tidak dimulai sejak pagi atau pukul 10.00. Kalau begini kami tidak bisa mengalirkan hak pilih," sambung warga lainnya.

Setelah dilakukan musyawarah antara Ketua KPU Sragen Minarso dengan Ketua Bawaslu Dwi Budhi Prasetya akhirnya pemungutan suara dilanjutkan. Dengan catatan sesuai jumlah surat suara yang tersedia. 

Ketua KPU Sragen Minarso mengatakan, hak suara warga karantina tetep difasilitasi. Setelah ada kesepakatan akhirnya warga yang ngatre tetap dilayani.

"Karena surat suaranya masih maka tetap kita layani sampai surat suara habis," jelas Minarso disela populasi pemungutan suara di tempat isolasi Mandiri Covid-19.

Pemilihan dan berakhir pukul 13.18 WIB. Dari 120 surat suara yang dipersiapkan KPU terpakai 117 lembar. "Yang disiapkan dari 7 TPS di sekitar Sragen Kulon ada 120 lembar. Ini tadi sisa tiga. Pemilihan lancar surat suara tercukupi," beber Minarso.

Terkait molornya pelaksanaan pemungutan suara karena dimulai pukul 13.35 WIB dari jadwal semula pukul 12.00 WIB, Minarso menyebut ada berbagai alasan. Diantaranya pelaksanaan harus menunggu KPPS penyangga di sekitar tempat isolasi yang baru siap setelah pencoblosan di TPS utama selesai.

"Ini tidak ada istilah terlambat. Karena jarak jauh dekat TPS pengampu jadi pengaruh, kemudian pemilih sana selesai apa belum. Karena apa kalau TPS utama belum memungkinkan menuju TPS isolasi maka yang pemilih utama harus beres dulu. Jadi di sini tidak ada istilah terlambat semua ngalir," jelasnya.

Dikesempatan yang sama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen dr Hargianto mengatakan, masalah teknis pelaksanaan pencoblosan menjadi ranah KPU. Petugas medis hanya membantu KPPS untuk melakukan pemungutan suara. "Kalau aturan kan semua di KPU. Kami hanya membantu saja agar pasien Covid-19 bisa menyalurkan hak pilihnya," tandas Hargianto. 

Pihaknya melibatkan 9 tenaga medis untuk membantu pemungutan suara pasien Covid-19. Tujuh diantaranya memfasilitasi pencoblosan sedangkan dua orang sebagai administrasi dan penetes tinta. 

"Semua memakai APD (Alat pelindung diri lengkap tingkat tiga. Selain medis ketua Bawaslu juga memakai seperti tenaga medis," beber Hargianto.

Teknis pemungutan suara di tempat isolasi mandiri ini pasien Covid-19 tidak boleh memuat surat suara. Mereka diwakili oleh tenaga medis yang sudah ditunjuk dan sesuai perjanjian merahasiakan suara warga. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penularan virus. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar