Wali Murid SDN Mojo Surakarta Sambut Baik PJJ Gunakan HT

KBRN, Surakarta: Ditengah peliknya permasalahan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dihadapi para murid, wali murid, maupun sekolah, SD Negeri Mojo Surakarta memiliki cara unik mensiasati problematika pembelajaran jarak jauh (PJJ) yakni dengan menggunakan alat komunikasi Handy Talky (HT).

Pembelajaran melalui Handy Talky (HT) ini, para guru yang tengah mengajar hanya tinggal menggunakan alat komunikai jarak jauh yang telah disiapkan di satu ruangan kelas sebagai alat utama, dan sudah dilengkapi headset, mic serta buku pelajaran.

Sedangkan, para murid, cukup mendengarkan melalui alat HT lainnya, dengan menyesuaikan frekuensi alat HT milik sekolah. metode pembelajaran jarak jauh mendapat sambutan baik dari para wali murid SD Negeri Mojo Surakarta.

Salah satu Wali murid Yuliani mengaku, metode PJJ ini sangat membantu para orang tua baik dari sisi pendidikan anak maupun sisi ekonomi.

Menurutnya, penggunaan HT ini dapat menghemat biaya pendidikan anaknya, lantaran para siswa masih dapat menerima pembelajaran dari guru secara langsung tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pulsa.

"Lebih mending pakai HT, irit, gak usah beli pulsa, anak-anak juga bisa langsung bertanya sama gurunya, itu gak papa," jelas Yuliani, Jumat (28/8/20).

Meski begitu, Yuliani mengakui sempat merasa bingung ketika pertamakali mengoperasikan HT saat pembelajaran jarak jauh, dirinya membutuhkan sekitar 1 minggu untuk membiasakan anaknya untuk menggunakan HT.

"Ya awal awal dulu, sempat binung, tpi sekarang udah bisa, anak juga udah biasa," bebernya.

Sementara itu, siswa SD Negeri Mojo Ahmad Baedi mengaku tidak mengalami kesulitan selama melaksanakan PJJ melalui HT, ia mengaku senang dan seru bisa berkomunikasi dengan guru maupun kawan kelasnya melalui HT.

"Seneng, seru belajar pakek HT, gak sulit, seneng aja pakek HT," katanya.

Disisi lain, Salah satu Guru SD Negeri Mojo Sigit Pambudi menjelaskan ide menggunakan alat Handy talky ini muncul saat terdapat murid yang terkendala pembelajaran jarak jauh akibat tidak mempunyai handphone, bahkan mereka harus rela belajar pada malam hari karena menunggu orang tua pulang kerja agar bisa membaca materi kiriman guru melalui aplikasi daring.

"Jadi awalnya, ada siswa yang tidak punya Hp, jadi mereka harus nunggu orangtuanya dulu pulang kerja, baru bisa belajar, jadi mereka belajarnya terpaksa malam, lalu ada ini pakai HT ini untuk pembelajaran jarak jauh," ungkapnya.

Lanjut Pambudi, saat ini penerapan PJJ menggunakan HT baru dilakukan pada 1 kelas dengan jumlah siswa 29 orang, hal itu disebabkan keterbatasan alat handy talky milik sekolah. Namun, metode pembelajaran tersebut akan terus dikembangkan pihak sekolah bila berjalan efektif.

"Sementar ini, baru kelas 6 B saja, kelas lain belum, muridnya ada 29, kalo kelas lain masih daring sama home visit, ini belum bisa di pakai semua karena alatnya minim, tapi kedepan lihat bisa kita kembangkan," bebernya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00