Bibit Intoleransi Berkembang di Sekolah Sragen, Disdikbud Jateng Akan Bertemu Seluruh Pengurus Rohis

KBRN, Sragen: Seluruh pengurus Ekstrakurikuler Rohis se-Kabupaten Sragen akan dikumpulkan untuk mendapatkan pembinaan. Pembinaan dilakukan menyusul kasus intoleransi dan intimidasi pengurus Rohis terhadap salah satu pelajar yang tidak berhijab di SMA 1 Gemolong Sragen. 

"Rohis tidak apa-apa. Tapi kami akan lakukan pembinaan, seluruh pengurus Rohis akan kita ajak silaturahmi. Kami tidak ingin ke depan masalah intoleransi ini kembali terjadi. Semuanya harus saling menghormati dan menghargai perbedaan," terang Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Jumeri kepada RRI pagi tadi, Jumat (10/1/2020).

Untuk diketahui, kasus teror yang dialami A, salah satu siswi SMAN 1 Gemolong Kabupaten Sragen karena tidak memakai jilbab, menjadi perhatian serius Pemprov Jawa Tengah. Dalam kasus tersebut, akan mengedepankan persuasi, dengan cara mengajak bicara siswa, guru dan orang tua siswa terkait hal itu. 

Jumeri mengatakan, sejak kasus itu mencuat di media sosial pada Rabu (8/1/2020) lalu pihaknya langsung menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pendalaman di lapangan. Menurut Jumeri kasus ini sudah selesai, semua pihak sudah memberikan penjelasan dan saling menerima. 

"Setelah diklarifikasi, kami menemukan keterangan jika yang mengirim pesan teror melalui Whatsapp kepada A adalah teman A sendiri. Teror itu bukan dikirim oleh guru, pembina rohis atau kepala sekolah, melainkan teman sebayanya," ujarnya.

Meski begitu, Jumeri menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh teman-teman A adalah tindakan intimidasi dan intoleransi. Untuk itu, pihaknya juga akan mengumpulkan pengurus Rohis se-Kabupaten Sragen untuk melakukan pembinaan, agar kasus intoleransi dan intimidasi di antara siswa tidak kembali terulang. 

"Kami ingin para Rohis ini semangat mengaji, semangat belajar tapi dengan cara cara yang moderat," lanjutnya.

Kasus intolerasni dan intimidasi dialami seorang pelajar SMA 1 Gemolong berinisial A, karena satu-satunya siswi muslim yang tidak berhijab di sekolah tersebut. Intimidasi diketahui oleh teman A yang merupakan pengurus Rohis sekolah setempat, dengan mengingatkan bahwa A keliru karena tidak berhijab. 

Bahkan akibat teror tersebut A sempat tidak masuk sekolah karena ketakutan. Beberapa saat lalu kasus ekstrakurikuler sekolah Rohis juga mencuat di SMKN 2 Sragen. Dimana para pengurus Rohis mengibarkan bendera HTI seusai pelantikan pengurus di sekolah mereka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00