Tembok SMPN 20 Solo Hampir Roboh, DPRD : Dampak Pemukiman Liar

KBRN, Surakarta: Komisi IV DPRD Kota Surakarta inspeksi mendadak untuk melihat kondisi tembok pagar SMP Negeri 20 di Jagalan Kecamatan Jebres yang sudah hampir roboh, Kamis (19/12/2019). Para wakil rakyat yang menangani bidang pendidikan ini melihat, tembok pagar sisi selatan barat sepanjang 40 meter dengan tinggi sekitar 4 meter tersebut sudah retak retak parah dan miring. Pihak sekolah harus menyangga dengan bilah-bilah bambu agar tembok tidak roboh.

Ketua Komisi 4 Putut Gunawan menyatakan, Kondisi tembok tersebut memang mengkhawatirkan apalagi saat musim hujan disertai angin kencang seperti sekarang. "Hanya saja sebelum pagar tembok itu nanti didirikan kembali, persoalan non teknios harus diselesaikan terlebih dahulu," katanya disela sidak.

Gunawan mengatakan ini menyangkut komunikasi dengan warga di luar tembok yang membuat bangunan menempel tembok sekolah. Bahkan sebagian pagar pembatas juga digunakan untuk buangan air warga, yang lebih dulu membuat permukiman, sebelum SMP 20 berdiri.

"Hanya masalahnya saya kira bukan masalah teknis tapi non teknisnya karena dibalik sana itu rumah penduduk, yang  mendirikan bangunan tanpa membuat tembok. lha ini yang non teknisnya yang mestinya secepat mungkin berupa sosialisasi dialog dengan warga termasuk ini ada buangan-buangan air yang ke arah sini yang sebenarnya ndak boleh itu," jelasnya.

"Itu juga harus diselseaikan dulu, nanti baru kita cari penyelesaian teknisnya. Sekali lagi ini saya kira membahayakan ya karena untuk aktivitas belajar mengajar yang melibatkan banyak pelajar. Di sana penduduk maka perlu dicarikan solusinya apalagi sekarang musim huja yang disertai angin," sambung Politisi PDIP itu.

Sedangkan  sisi teknis sebenarnya tidak membutuhkan biaya yang besar untuk merobohkan dan membangun kembali pagar tembok SMP 20. Hanya saja karena dari aspek angaran untuk APBD 2020 sudah disahkan, maka akan dialokasikan dalam APBD Perubahan tahun 2020. Putut Gunawan menduga tembok pagar hampir ambruk karena dibangun dengan kontruksi lama model pilar tidak pakai beton kolom.

"Sehingga tidak memenuhi syarat dari unsur teknis apalagi jika  terjadi pergeseran tanah. Juga  dimungkinkan tidak kuat menahan tambahan beban bangunan warga yang menempel di balik tembok sekolah."

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00