Gandeng Hamad Bin Khalifa University, UNS Fintech Center Gelar Joint Workshop

Gandeng Hamad Bin Khalifa University, UNS Fintech Center Gelar Joint Workshop.

KBRN, Surakarta: Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Fintech Center menggelar acara joint workshop dengan mengusung tema “Digital Transformation Islamic Finance Green Economy” pada Selasa (24/5/2022). Dari rilisnya, acara yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting tersebut, menggandeng Hamad Bin Khalifa University (HBKU) Qatar.

Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. selaku Rektor UNS juga turut hadir dalam acara ini. Dalam sambutannya, ia berharap agar acara ini dapat bermanfaat bagi peserta. “Saya harap dengan adanya acara ini dapat memberikan manfaat bagi hadirin,” kata Jamal dalam bahasa Inggris. Acara ini menghadirkan empat presenter. Terdapat Aldy Fariz Achsanta dari UNS selaku presenter pertama. Ia membahas paper-nya yang berjudul “Disclosure of Related Party Transactions, Business Group Affiliation, and The Cost of Debt”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa premi risiko hanya dikenakan pada peminjam dengan peringkat kredit yang buruk. Lalu, transaksi pihak berelasi yang menguntungkan biasanya dikaitkan dengan biaya utang yang lebih tinggi. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan hal ini bisa terjadi ketika pemilik akhir terbesar memiliki hak suara yang lebih rendah dan ketika ada beberapa pemegang saham besar. Hal ini juga dapat terjadi ketika peminjam berada di negara-negara dengan hak kreditur yang lebih kuat atau perlindungan pemegang saham yang lebih kuat. Presenter kedua adalah Mustafa Disli yang berasal dari HBKU mengulas paper dengan judul “Favoring the Small and the Plenty: Islamic Banking for MSMEs”. Terdapat beberapa poin yang ia sampaikan. Ia mengatakan bahwa setelah mengendalikan karakteristik bank, bank syariah sangat terlibat dalam penyaluran kredit ke sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). 

Selanjutnya, bank syariah cenderung lebih mendiversifikasi portofolio pinjamannya ke pembiayaan UKM. Poin ketiga adalah kredit bermasalah bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional lainnya. Terakhir, penemuannya menyatakan bahwa pembiayaan bank syariah berkorelasi positif dengan pertumbuhan. “Karena UKM merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi, temuan kami secara implisit mengungkapkan bahwa pembiayaan bank syariah berkorelasi positif dengan pertumbuhan,” jelasnya. Dilanjutkan oleh Zhamal Nanaeva dari HBKU, ia mengulas paper dengan judul “Open Banking in Europe: The Impact of the Revised Payment Services Directive on Solarisbank and Insha”. Ia menegaskan bahwa akademisi harus memainkan peran penting dalam mengembangkan ekosistem baru dan mendorong debat terbuka mengenai data pelanggan. “Akademisi harus memainkan peran penting dalam mengembangkan ekosistem baru dan mendorong debat terbuka tentang data pelanggan. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut harus dilakukan di bidang yang berkaitan dengan peraturan baru dan tantangan transisi ke metode penciptaan nilai baru,” jelasnya. Terakhir, Tastaftiyan Risfandy dari UNS yang memaparkan paper berjudul “Digital Finance, Household Consumption, and Covid-19 Pandemic: Evidence from Indonesia”. Mendukung beberapa penelitian sebelumnya, ia menjelaskan bahwa keuangan digital telah terbukti secara empiris menjadi jalan untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga yang pada akhirnya dapat meningkatkan inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi. 

Sebaliknya, dampak Covid-19 yang tidak signifikan dapat menunjukkan keberhasilan program pemerintah seperti Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi Covid-19 untuk mengurangi dampak negatif Covid-19 terhadap perekonomian. (Ase)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar