FOKUS: #VAKSIN COVID-19

PTM di 2 SMPN Solo Dihentikan, Buntut Belasan Pelajar Positif Covid-19, Total 7 Sekolah Ditutup

Ilustrasi foto, Wakil Walikota Surakarta Teguh Prakosa mengontrol penerapan prokotol kesehatan di sekolah yang menyelenggarakan PTM.

KBRN, Surakarta: Satgas Covid-19 Surakarta kembali mendapati pelajar terkonfirmasi positif Covid-19 dari testing acak yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota (DKK). Penutupan sekolah dari aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM) juga meluas buntut dari pelajar yang tertular virus Sars-COV-2 itu. 

Sebelumnya ada 5 SD yang ditutup setelah 47 pelajar dan guru dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian dua SMP juga ditutup sejak Rabu (20 Oktober) setelah ditemukan 12 pelajar yang terpapar Covid-19. 

Yakni SMPN 8 ditemukan 11 pelajar positif korona dan SMPN 4 Surakarta 1 pelajar yang terpapar korona virus. Total 7 sekolah sudah ditutup dari aktivitas belajar mengajar PTM.

Ketua Pelaksana Satgas Covid-19 Surakarta Ahyani menyampaikan, PTM di sekolah yang ditemukan kasus penularan virus korona langsung dihentikan dua pekan sampai satu bulan. Setelah tracing dan treatment selesai sekolah tersebut baru boleh menyelenggarakan PTM lagi. 

"Yang terdeteksi PTM dihentikan dulu. Setelah kasus selesai baru kembali di buka, SMP 4 dan 8 tutup. Testing diperluas khususnya PTM yang sekolah dulu aja. Namanya virus gak bisa dibatasi tapi kita ke yg sekolah dulu," jelas Ahyani Rabu (20/10/2021).

Untuk itu menurut Ahyani, testing untuk sekolah yang menyelenggarakan PTM harus diperluas, untuk mendeteksi kasus-kasus baru. Kemudian pihaknya mendorong agar pemerintah segera melakukan vaksinasi untuk anak-anak remaja dan juga dibawah usia 12 tahun agar lebih aman dalam pelaksanaan PTM.

"Terutama PTM harus hati hati adik adik kita yang belum divaksin yang remaja kan baru belasan ribu padahal murid kita 70 ribu. Makanya harus didorong vaksin anak anak, kalau ekonomi, pasar, UKM sudah semua, pendidikan harus segera ditindaklanjuti. Vaksinasi untuk sekolah saja akan lebih efektif. Langsung sekolah saja," tandasnya.

Terpisah Kepala DKK Surakarta dr Siti Wahyuningsih mengatakan, setelah ditemukan kasus baru 12 anak terpapar Covid-19 dari 2 SMPN langsung melakukan tracing. Ning Sapaan akrabnya menekankan bahwa protokol kesehatan 5 M sebenarnya harus menjadi budaya dan gaya hidup masyarakat. Sebab protokol kesehatan ini satu-satunya cara aman dari virus.

"5 M itu menurut saya bukan aturan yang harus ditaati. Tetapi, itu menjadi suatu kebutuhan setiap individu. Jadi, menjadikan 5 M itu sebagai gaya hidup, seperti kita mandi dan makan. Bukan sebagai suatu aturan yang harus dilaksanakan. Kalau seperti itu nanti polisi datang pakai masker. Bu Ning datang pakai masker. Nggak maskernya dilepas. Artinya PR kita adalah menjadikan 5 M sebagai budaya. Sebagai gaya hidup. Ini harus kita tata. Mulai dari anak-anak. Perilaku kan mulai dari anak-anak," jelas Ning.

Sebelumnya 41 peserta didik dan 6 guru terkonfirmasi positif korona dari lima SD. Rinciannya 37siswa dan lima guru SD Kristen Manahan, seorang siswa SD Negeri Mangkubumen Kidul, 10 siswa dan seorang guru SD Negeri Danukusuman, seorang siswa SD Al Islam 2 Jamsaren dan dua siswa SD Negeri Semanggi Lor. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00