FOKUS: #PPKM MIKRO

Ada Klaster Sekolah Saat PTM, Komisi X Tak Ingin Penutupan Dipukul Rata

Foto ilustrasi pelajar melakukan pengecekan suhu tubuh sebelum masuk ke ruang kelas untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.

KBRN, Surakarta: Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) yang dilaksanakan sejak awal bulan ini ditemukan kasus penularan Covid-19 dan klaster sekolah. Seperti di DKI Jakarta dan Jepara Jawa Tengah. 

Meskipun begitu Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan tak akan gegabah dengan menghentikan PTM yang baru saja dimulai.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng Prameswari mengatakan, terjadinya klaster sekolah akan segera ditindaklanjuti oleh jajaran komisi X. Pihaknya akan mengecek langsung ke daerah tersebut seperti di Jepara. Pihaknya tak ingin ada satu klaster sekolah di suatu daerah kemudian semua PTM dihentikan. 

"Nanti kita lihat apakah memang benar. Jadi jangan hanya karena di Jepara ada seperti itu kemudian yang lainnya mendapatkan imbas. Kita akan lihat apakah Jepara seperti apa, kalai itu memang harus diambil tindakan ya kita ambil tindakan," kata Agustina Wilujeng saat kunjungan kerja ke Solo Jumat (24/9/2021). 

Anggota DPR RI dari Daerah Pilihan 4 Jawa Tengah itu menegaskan, sekolah tatap muka harus berjalan karena anak-anak kehilangan momentum. Lebih dari 1,5 tahun mereka tidak bertemu dengan sahabat-sahabat dan guru di sekolah yang dikhawatirkan akan mempengaruhi karakter generasi penerus. 

"Tetapi bahwa sekolah tatap muka itu penting dilaksanakan dicoba hari ini karena apapun 1,5th anak anak ini kehilangan momen, learning lost ini gede banget 1,5th. Coba bayangkan. Anak-anak kelas 1 SD ketika mereka ga masuk sekolah ketika ortunya bekerja siapa yang mengajari mereka menulis di rumah kan mereka PJJ (pembelajaran jarak jauh) pakai laptop komputer," jelas Agustin.

"Maka kita coba pendidikan tatap muka dengan metode yang bener-benar secure. Tadi pak wali bilang dicek random, dirandom tanpa pemberitahuan supaya sekolahnya disiplin," sambung Agustina sesuai bertemu dengan Walikota Solo Gibran Rakabuming di Balaikota Surakarta.

Politisi dari fraksi PDIP itu meminta guru, orang tua dan pelajar gotong-royong dalam menerapkan protokol kesehatan dan menyiapkan sarana prasarana untuk Prokes. Pihaknya meminta daerah lebih ketat melaksanakan Prokes saat PTM dan melakukan random testing Covid-19 secara dadakan. 

"Prokes itu harus gotong royong seluruh komponen yang terlibat, baik itu orangtua sekolah, guru, siswa, tenaga kependidikan, siapapun yang ada disitu semuanya harus gotong royong. Misalnya kalau masker harus bawa sendiri-sendiri kalau tempat cuci tangan silakan sekolahan diatur. Saya kira kalau ga ada gotong royong, kerjasama ga akan terjadi prokes," tandasnya.

Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan, PTM di Solo masih terus berlangsung dan belum ada siswa atau guru yang terpapar Covid-19. Pihaknya melakukan random testing covid terhadap pelajar guru dan staf untuk skrining.

"Kita masih melakukan random testing sejauh ini masih negatif. Target sebanyak banyaknya pokonya secara random acak tanpa pemberitahuan,' jelas Walikota.

Gibran mengatakan terus meningkatkan kewaspadaan terkait munculnya klaster sekolah di beberapa daerah. Putra Sulung Presiden Jokowi itu meminta guru orang tua dan murid mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. Bilamana random testing ditemukan anak atau guru terpapar Covid-19 PTM di sekolah tersebut akan dihentikan sementara. "Tapi sampai sekarang belum ada kasus di Solo. Masih aman."

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00