Tim PKM-PM UNS Galakkan Urban Farming Agar Tingkatkan Ketahanan Pangan

Urban Farming Mahasiswa UNS

KBRN, Surakarta: Pandemi Covid-19 yang sudah satu setengah tahun melanda Indonesia turut berimbas pada ketahanan pangan. Kerawanan pangan di perkotaan pada umumnya disebabkan karena masalah ketersediaan pangan dan ketidakmampuan rumah tangga miskin di perkotaan untuk mengakses pangan yang aman dan berkualitas dalam jumlah yang cukup. Dalam menghadapi pandemi Covid-19, penguatan strategi ketahanan pangan dapat dimulai dari skala kecil atau skala rumah tangga. Salah satu solusi yang dapat dicanangkan yaitu pemanfaatan teknologi urban farming.

Hal tersebut seperti yang digalakkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa - Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Mereka mengadaptasi teknologi urban farming dengan akuaponik sistem rakit apung di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah (PAYM) Danukusumo, Kabupaten Purworejo. Mereka terdiri dari  Hanif Alwan Mumtaz, Khafid Alfian Rosyadi, Mia Silviana, Cut Dede Diah Rosyidah, dan Haani Aulia Sabina.

“Urban farming atau pertanian urban merupakan strategi pemanfaatan lahan di area perkotaan yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat, menghadapi krisis ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pasar. Dengan segudang manfaat, urban farming mampu menjadi solusi yang bisa diterapkan di masa pandemi ini,” terang Hanif selaku ketua PKM, Senin (26/7/2021).

Respons baik juga disambut oleh pihak panti, salah satunya Ibu Sri, pengurus panti Danukusumo. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pendidikan dan pelatihan kepada anak panti mengenai akuaponik sebagai bekal di kemudian hari agar dapat hidup dengan mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.

“Apapun yang mampu menambah wawasan atau skill buat anak asuh sangat kita terima,” katanya.

Hanif menjelaskan, pembuatan sistem akuaponik dengan rakit apung ramah lingkungan ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan yang terbatas di daerah perkotaan serta mengurangi limbah botol plastik.

“Akuaponik sistem rakit apung sendiri adalah perpaduan antara akuakultur dan hidroponik. Akuakultur adalah memelihara ikan sedangkan hidroponik adalah menanam tumbuhan dengan media tumbuh berupa air. Rakit apung merupakan sistem yang dipilih karena dapat memanfaatkan limbah botol plastik sebagai wadah untuk menanam,” jelasnya.

Mereka juga menghadirkan program bertajuk Danukusumo Aquaponik House untuk menciptakan unit bisnis sebagai sumber pemasukan dan mewujudkan income generating bagi PAYM Danukusumo. Selain itu, program ini dapat memberdayakan anak asuh dengan memberikan bekal bisnis kreatif inovatif dalam budidaya ikan dan tanaman pada daerah perkotaan dengan keterbatasan lahan.

Tim yang dibimbing oleh Rysca Indreswari, S.Pt., M.Si. menerangkan bahwa akuaponik dengan sistem rakit apung ini juga sekaligus memanfaatkan limbah botol plastik dari rintisan bank sampah yang dimiliki panti.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00