Kejar Target Swab Massal, Petugas Jemput Warga ke Rumah Pakai APD Lengkap

KBRN, Sragen: Swab test massal sebagai sampel persebaran virus Corona (Covid-19) di Kabupaten Sragen terus dikejar. Bahkan untuk memenuhi target 1 persen dari populasi warga Swab massal terus digencarkan. 

Petugas kesehatan Pemkab Sragen bahkan melakukan penjemputan warga yang akan dilakukan swab ini, disebut-sebut menimbulkan kepanikan. Data yang dihimpun dari Satgas Covid-19 Sragen menyebutkan sampai hari ini, sudah ada sekitar 7.775 warga di 20 kecamatan dari 10 ribu warga yang ditargetkan.

Sekretaris Satgas Covid-19 Sragen Tatag Prabawanto menjelaskan, terus melakukan uji swab sesuai dengan perintah presiden minimal 1 persen dari populasi penduduk di Sragen atau 10 ribu sampel dari beberapa kecamatan. Pihaknya memastikan  kuota 1 persen dari populasi penduduk akan terpenuhi. " Ini sudah lebih dari 0,5 persen. Target kami secepatnya segera selesai," ucap Tatag, Sabtu (24/10/2020).

Tatag juga mengklaim tes PCR ini berjalan lancar, masyarakat tidak perlu takut, karena yang dilakukan ini hanya upaya sampling persebaran Covid-19 di masing masing kecamatan. 

"Masyarakat tidak perlu takut karena ini hanya sampling persebaran Covid-19 di kecamatan. Karena saat ini terbanyak itu klaster keluarga bukan pelaku perjalanan. Saya harap target 1 persen ini selesai secepatnya," jelas pria yang juga Sekda Sragen itu.

Sementara itu Anggota Komisi IV DPRD Sragen, Fathurrohman mengatakan mendukung program swab massal yang saat ini dicanangkan pemerintah. Namun ia menekankan agar Pemkab dan DKK mengkaji kembali mekanisme swab test terutama penjabat. 

"Harusnya para pejabat eselon dan semua Kadinas, memberi contoh terlebih dahulu dengan mengikuti swab serentak agar menjadi teladan sekaligus sebagai upaya sosialisasi sehingga warga mau mengikuti untuk diswab," pintanya.

Mekanisme penjemputan warga yang akan diswab harus dikaji ulang agar tidak menimbulkan kepanikan dan stigma di masyarakat. Selama ini di lapangan banyak warga ketakutan diswab karena dijemput ambulans.

"Dicari celah pendekatan yang baik. Selama ini di lapangan banyak warga ketakutan diswab karena dijemput ambulans. Kadang tracking yang dilakukan juga tidak obyektif. Sehingga warga jadi ketakutan kalau mau diswab. Makanya kepala-kepala dinas, camat dan semua kepala puskesmas kalau bisa diswab dulu, harus beri contoh lah kepada masyarakat,” terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00