Sampaikan Secara Transparan dan Jelas Tentang Vaksin Covid 19

KBRN, Surakarta : Ramainya informasi dan perbincangan masyarakat terkait vaksin covid-19 yang tak lama lagi akan diedarkan di Indonesia, harus ditindaklanjuti dengan penjelasan resmi dari pemerintah pusat. Penjelasan tersebut harus disampaikan secara transparan dan komprehensif melalui semacam laporan ilmiah hasil penelitian yang bisa diakses publik secara gampang.

Pengamat kesehatan Universitas Sebelas Maret Profesor dr Reviono, Sp P mengatakan, Agar tidak menjadi kontroversi dan bisa menimbulkan kegaduhan,  harus dijelaskan secara gamblang . Penjelasan tesbeut menyangkut  efektifitas vaksin maupun efek samping vaksin, baik yang didatangkan dari negara lain, maupun produk anak negeri.

“Harus secara jelas dinyatakan vaksin itu aman dan efektif , serta efek samping mestinya transparan cara pelaporannya.  Karena publik sebagian besar akan mengikuti, tak sekedar lewat jurnal internasional yang hanya dipahami terbatas akademisi saja. Laporan bisa dipahami masyarakat luas, dan harus komplit, “ ungkap dokter Revi saat dihubungi RRI melalui telpon, Rabu ( 21/10/2020 )

Sementara dikonfirmasi secara terpisaj Sekretaris Satgas covid-19 Kabupaten Sragen Tatag Prabawanto menginginkan, Jika program vaksinasi berjalan akan diprioitaskan dahulu bagi tenaga kesehatan.  Namun agar tidak terjadi kecurigaan di masyarakat, perlu adanya kejelasan dari Pemerintah Pusat terkait program vaksinasi covid-19 yang nanti diterapkan di daerah :

“ Bagaimana program pemerintah terkait vaksinasi ke masyarakat, kami tunggu. Apapun akan kami sempaikan ke masyarakat secara terbuka agar masyarakat tidak mencurigai kami sebagai lembaga pemerintahan di daerah. Jika yang diberi vaksin itu dibeda-bedakan, kami sesuai program pemerintah kesetaraan. Namun harapan kami petugas kesehatan diprioritaskan,” kata Tatag.

Sambil menunggu vaksin datang dan diedarkan, Pemkab Sragen terus menegakkan kedisiplinan masyarakat terkait protokol kesehatan.  Juga  menjalankan program 1 % populasi penduduk test swab, yang saat ini  sudah tercapai 0,6 %.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00