Pernah Dicap Dokter Salep, Inovasi dr Moerbono Kini Jadi Rujukan Spesialis Kulit Internasional

Dokter Moerbono Mochtar spesialis Kulit dan Kelamin owner MM Clinic. Dok RRI

KBRN Surakarta: Nama Moerbono Mochtar tidak asing lagi di kalangan dokter spesialis kulit dan kelamin, di Kota Solo, bahkan sampai di tingkat internasional. Selain jadi guru hampir semua dokter spesialis kulit di seluruh Indonesia, dokter Moerbono juga jadi kesayangan pasien perawatan kulit wajah. 

Dijumpai wartawan MM Clinic Cabang Setiabudi miliknya beberapa saat lalu, Dokter Moerbono bercerita dirinya pernah dijuluki dokter salep. Karena dulu dokter kulit terkenalnya hanya memberikan obat salep untuk gatal dan borok. 

Berangkat dari julukan itu, Moerbono ingin mengubah stigma itu, bahwa dokter spesialis kulit juga bisa membuat kosmetik perawatan kecantikan. "Sejak 1994, saya mulai mengenalkan kosmetik ramuan saya sendiri. Membuat krim wajah sampai toner cleansing," ungkapnya. 

Dengan Inovasi kala itu, Moerbono jadi pioneer dokter spesialis kulit di Kota Solo yang membuat krim racikannya sendiri.  Tidak disangka, produk kosmetik racikannya meledak di pasaran, pemakainya membeludak dan membuka peluang dokter spesialis kulit langsung laku keras. 

Dari yang dulunya hanya beberapa orang saja, kini menjadi lebih dari 100 orang pendaftar dalam setahun. Dan sampai sekarang, profesi dokter spesialis kulit justru menjadi incaran banyak orang. Mahasiswa rela bersaing dengan ratusan pendaftar lainnya demi bisa meraih predikat dokter spesialis kulit. 

"Padahal spesialis kulit itu yang diterima hanya 8 orang. Yang mendaftar ratusan. Jadi peminatan spesialis yang paling favorit," sambung pria kelahiran Pati, 19 Februari 1949 itu. 

Saking banyaknya mahasiswa yang belajar spesialis kulit, kini Moerbono punya banyak murid yang menjadi dokter spesialis kulit terkenal. Moerbono memang menegaskan ke murid-muridnya, bahwa pengabdian sebagai dokter harus dilakukan ke daerah-daerah. Jangan hanya duduk diam di Ibukota saja. 

Yang terpenting dari profesi dokter adalah pengabdian. Banyak penyakit kulit di daerah yang belum tertangani dengan baik. Sebut saja, eksim, lepra, dan lain sebagainya. Belum lagi penyakit kelamin. 

"Meskipun mayoritas pasien datang untuk kecantikan. Tapi penyakit kulit dan kelamin juga harus bisa ditangani. Saya pernah menerima pasien dengan penyakit keliatan. Katanya dokter kulitnya tidak mau menangani. Untung bukan murid saya. Kalau murid saya sudah saya panggil, tak pisuh-pisuhi itu. Ya tetap harus diterima penyakit kulit dan kelamin apapun. Meskipun borok tetap harus ditangani," tegasnya. 

Booming klinik kecantikan di Kota Solo pun diramaikan oleh murid-murid Moerbono. Dirinya mengaku tidak merasa tersaingi dengan menjamurnya klinik yang didirikan para muridnya. 

Sebagai senior sekaligus pengajar, Moerbono tidak pelit membagikan ilmu ke murid-muridnya. Moerbono bahkan telah tersertifikasi internasional sebagai pengajar dermatology intervensi internasional. Sertifikasi itu berupa medali. 

Yang semestinya diterima langsung di New York. Namun lantaran kesibukan Moerbono, medali hanya dikirim ke alamat rumahnya.

"Murid saya mulai bikin skin center, silakan. Malah jadi rekanan dan mitra saya. Kalau ada keluhan yang dia tidak bisa menangani ya dikirim ke saya. Kalau yang ringan-ringan, silakan mereka kerjakan," imbuh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) ini. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar