Satu Semester KPA Solo Temukan 46 Kasus HIV-AIDS Baru, 2030 Zero Penularan

Wakil Walikota Surakarta Teguh Prakosa memberikan pengarahan kepada Warga Peduli Aids di Rumah Dinas Wakil Walikota.

KBRN Surakarta: Pemerintah Kota Surakarta menargetkan penularan HIV Aids di Kota Bengawan berhenti din tahun 2030. Artinya tidak ada lagi warga yang tertular virus mematikan itu. 

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Solo kini terus ekstra untuk mengungkap semua kasus yang belum terdeteksi dengan menggandeng Warga Peduli Aid (WPA) di setiap kelurahan. 

Sekretaris KPA Kota Solo, Widdi Srihanto menyampaikan terus melakukan sosialisasi pencegahan kepada masyarakat umum dan kelompok risiko tinggi. Widdi mengatakan biasanya temuan kasus Aids lebih tinggi dibandingkan HIV. 

"Kami memetakan lokasi-lokasi mana saja yang termasuk hotspot. Kami mendorong mereka mau melakukan pemeriksaan mandiri. Di Solo ada 25 fasilitas layanan kesehatan yang menyediakan voluntary counseling and test (VCT)," terang Widdi, di sela penyerahan bantuan Dana Stimulan 54 warga peduli Aids (WPA) Kelurahan dan Rumah Singgah Lentera di Pendopo Rumah Dinas Wakil Walikota Solo Selasa (12/10/2021).

Widdi mengatakan, mereka yang mengidap HIV masih bisa beraktivitas dibandingkan pengidap Aids. Kehadiran WPA sangat penting menyokong temuan kasus baru. Di samping itu, mereka juga bergerak memberi dukungan kepada mereka untuk tetap mengakses ARV.

"Kesulitan WPA adalah menemukan alamat tempat tinggal yang kadang tak sesuai KTP. Biasanya mereka dapat data dari Puskesmas saat VCT dilakukan. WPA menindaklanjuti sebagai pendamping,” jelasnya.

Widdi menyampaikan dari ratusan kasus tercatat sebanyak 5-10% di antaranya lolos pantau atau tak lagi mengakses ARV. Hal itulah yang memunculkan kekhawatiran lantaran ARV bisa memperlambat perkembangan virus HIV agar tak naik tingkat menjadi Aids. 

"Dengan terapi, pengidap virus dapat bertahan hidup lebih lama dan beraktivitas normal seperti orang sehat pada umumnya."

Sementara itu Warga Peduli Aids Kelurahan Timuran Suyanto mengakui sulit memantau ODHA karena sering berpindah-pindah. Apalagi kasus baru tidak akan terdeteksi jika tidak ada laporan dari Dinas Kesehatan.

"Sulit kita mendeteksi kalau petugas dinas kesehatan tidak menyampaikan ke kami kalau ada temuan baru," ujarnya.

KPA Solo merilis jumlah pengidap HIV/Aids yang terdeteksi di Kota Bengawan terus bertambah. Hanya dalam enam bulan yakni Januari-Juni ini, temuan pengidap HIV/Aids mencapai 46 orang. 

Dari data tersebut secara kumulatif jumlah pengidap HIV/Aids di Solo pada 2005 hingga Juni 2021 mencapai 946 orang. Perinciannya, kasus HIV sebanyak 417 orang dan AIDS 529 orang, kemudian 154 orang tercatat meninggal dunia akibat HIV/Aids. Mulato

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00