FOKUS: #PEMBELAJARAN ERA PANDEMI

Deteksi Klaster PTM, Puluhan Pelajar dan Guru di Kota Solo Diswab PCR

Tenaga kesehatan DKK Surakarta melakukan swab PCR kepada pelajar SDN Mojosongo Solo.

KBRN, Surakarta: Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta mengambil sampel testing dengan swab PCR terhadap pelajar dan guru SD di Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres Solo, Kamis (14/10/2021).

Swab PCR ini untuk evaluasi PTM, program Kementrian Kesehatan, dengan harapannya tidak ada yang positif terpapar Covid 19 setelah semua patuh prokes. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta dr Siti Wahyuningsih mengatakan, dari Kemenkes ada 29 sampel sekolah yang harus dilakukan testing. Mulai dari tingkatan SD, SMP dan SMA. 

"Jadi setiap sampel diambil sekitar 30 pelajar dan guru secara berkelanjutan sampai tanggal 21 Oktober," kata dr Ning di sela pengambilan sampel Swab PCR di SDN Mojosongo.

Tes akan dilakukan berkala bahkan setiap bulan sebagai antisipasi klaster sekolah seperti yang terjadi di beberapa daerah lain. Adapun testing kali ini dengan Swab PCR, untuk mendeteksi orang tanpa gejala OTG.

"Nanti akan dilakukan secara berkala. Bulan depan mungkin akan kita lakukan kembali. Jadi ini pedoman dari kemenkes," jelas Ning.

"Kalau antigen kan mendeteksi infeksi akut. Ini kan tidak ada gejala semua. Tapi tidak ada gejala kemungkinan ada OTG. Kebetulan ini juga kosong (Labkesda) dalam arti langsung kita PCR. Karena memang yang terbaik ya PCR," lanjut dia.

Dokter Ning menyampaikan dari rangkaian testing selama ini belum ditemukan kasus positif terpapar Covid 19. Menurutnya Untuk mempertahankan ini perlu kerjasama dari semua pihak, sekolah dan orang tua yang terpenting. 

Dari sisi kesehatan di sekolah Ning menilai lebih patuh prokes, karena hasil asessment tim puskesmas, memenuhi syarat. Justru yang dikahwatirkan adalah saat di jalan dan di rumah karena biasanya prokes anak-anak luput dari pantauan orang tua.

"Saya sudah pesan kepada Disdik (Dinas Pendidikan), saat masuk pertama nggak usah pendidikan dulu. Tetapi tekankan prokes. Kenapa sih harus pakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Sehingga mereka melakukan prokes 5 M tidak terpaksa, tetapi menjadi suatu kebutuhan. Kalau dulu saya sampaikan PHBS adalah gaya hidup. Sekarang saya tambah 5 M adalah gaya hidup. Jadi harus melekat, suatu kebutuhan," tandasnya.

Sebelumnya walikota Solo gibran Rakabuming Raka menilai pelaksanaan PTM sudah semain baik, prokes di sekolah semakin tertib. Walikota mendukung testing dengan random sampel di sekolah-sekolah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk mendeteksi penularan virus. Mulato

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00