Kasus Intoleran Solo Terus Berkembang, 5 DPO Masih Buron

KBRN,Surakarta: Setidaknya masih ada 5 orang yang masih buron (DPO) dalam kasus pengrusakan dan penganiayaan di Kampung Mertodranan Pasarkliwon Solo pada Sabtu 08 Agustus lalu. Jumlah itu bertambah dari daftar pencarian orang (DPO) yang ditetapkan. 

Sebelumnya Satreskrim Polresta Surakarta berhasil mengamankan delapan tersangka. Kini berkas perkaranya segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Solo.

Bahkan pada Kamis 17 September 2020 pagi, Polresta dengan Kejari telah melaksanakan 77 adegan rekonstruksi kasus intoleransi itu. Sebanyak 8 tersangka yang diamankan didatangkan dalam reka ulang tersebut. 

Hingga saat ini kepolisian terus memburu keberadaan terduga pelaku pengrusakan di Mertodranan Solo lainnya yang sudah teridentifikasi. Kepolisian telah menetapkan 5 orang DPO.

"Jadi DPO sendiri kita sudah menetapkan lima orang DPO. Dari keterngan saksi saksi yang ada dan para tersangka," ungkap Kasat Reskrim Polresta Surakarta AKP Purbo Adjar Waskito seusai memimpin rekonstruksi. 

Satu diantara DPO berinisial R disebut sebagai orang penting dalam peristiwa intoleransi di Mertodranan, Solo. Dia diduga sebagai penggerak massa datang ke lokasi.

"Untuk DPO atas nama R termasuk memberikan keterangan dan instruksi pada rekanya untuk menuju kelokasi TKP. Kalau peranan yang bersangkutan berada di TKP,” jelasnya.

Untuk diketahui delapan tersangka yang ditangkap meliputi pria berinial  BD yang diketahui sebagai otak dari aksi pengrusakan di kediaman Habib Umar Assegaf. BD ditangkap bersama tersangka lain yakni MM, MS, ML, dan RM masih di sekitar Kota Solo. 

Sepekan berselang kepolisian berhasil menangkap pelaku lain berinisial S dalam pelariannya ke Pacitan Jawa Timur. S diduga juga sebagai penggerak kelompok massa menuju ke wilayah Mertodranan. 

Polisi juga menangkap J dan AN alias H di wilayah Klaten. Dua pelaku itu sempat mengaburkan identitasnya dengan mencukur rambut sembari berpindah-pindah antarkota. Para tersangka seluruhnya merupakan warga Kota Solo. 

Sebelumnya Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan tidak ada ruang bagi kelompok intoleransi di Kota Solo.

“Tidak ada ruang bagi kelompok intoleran. Pilihanya ada dua menyerahkan diri atau kita tangkap dan dilakukan tindakan tegas,” tandas Ade Safri.

Para pelaku bakal dijerat dengan pasal 160 KUHP tentang penghasutan yang berujung pada kekerasan dan atau pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan pasal 335 KUHP tentang ancaman dengan kekerasan, hukuman maksimal 9 tahun penjara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00