Polres Karanganya Tetapkan 1 Tersangka Kasus Perusakan Hutan Gunung Lawu

KBRN, Karanganyar: Polres Karanganyar berhasil menetapkan seorang tersangka berinisial ST atau GDR warga Tlogodlingo, desa Gondosuli Tawangmangu dalam kasus perusakan hutan di Gunung Lawu yang terjadi pada 3 Januari lalu.

Dalam rilis di Mako Polres Karanganyar, Selasa, (21/1/20), Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi mengatakan penetapan tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan dari sejumlah pihak yang telah dimintai keterangan seperti perhutani, investor maupun pengembang.

"Klo kemarin hasil penyelidikan, kita sudah memanggil dari pihak perhutani investor dan pengembang serta saksi-saksi yang ada, keselahan menuju pada salah satu tersangka ini saja," jelasnya.

Dikatakan AKBP Leganek penetapan ST yang bertindak sebagai penanggungjawab proyek menjadi tersangka tersebut, lantaran ST telah merobohkan 8 pohon berjenis pinus di wilayah hutan lawu atas inisiatif sendiri, padahal ijin yang diajukan pihak investor kepada perhutani belum turun.

"Jadi investor dan pengembang sudah mengajukan ijin, tapi belum di acc secara penuh, karena belum clear, mana saja titik pohonnya, dan kemarin saya periksa, ini ijin belum clear tapi sudah dilaksanakan pemotongan," bebernya.

Sementara dari hasil olah TKP, terdapat sejumlah barang bukti yang sudah diamankan diantaranya gergaji Mesin, handphone, eskavator, dan 18 potongan kayu berukuran 4 meter.

"Barang bukti yang diamankan, ada senso (gergaji mesin), Handphone, Beghoe, dan potongan kayu ukuran 4 meter jumlahnya 18," bebernya.

AKBP Leganek menambahkan pihaknya akan melakukan pemeriksaan secara intensif untuk memastikan tindakan perusakan tidak kembali terulang.

Sementara itu, tersangka ST kepada wartawan mengaku berinisiatif merebohkan pohon di kawasan proyek, lantaran kondisi pohon riskan tumbang dan berbahaya bagi para pekerja, selain itu juga dirinya tidak mengetahui izin dari perhutani belum turun.

"Itu kan tanah di kanan kiri sudah di keruk pakai begho, kondisi itu mengkhawatirkan untuk pekerja saya, jadi saya inisiatifkan untuk merobohkan, setahu saya itu lokasi sudah ada ijinnya, ya kulo pikir niku mpun sah," terangnya.

Akibat perbuatannya, tersangka ST dijerat pasal 82 ayat (1) UU no 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal 2,5 miliyar rupiah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00