FOKUS: #PPKM MIKRO

Diduga Melakukan Pelecehan Seksual, Oknum Guru Ngaji di Sragen Dilaporkan Polisi

Foto ilustrasi kekerasan seksual pada anak, dok rri.co.id

KBRN, Sragen: Pelecehan seksual diduga terjadi di Kabupaten Sragen, yakni di sebuah desa di Kecamatan Sambungmacan. Kali ini aksi pencabulan menimpa seorang santriwati berinisial T (12), yang diduga dilakukan oleh guru ngajinya sendiri.

Oknum Guru ngaji berinisial IZ (55) dilaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Sragen Jumat 3 September lalu. Paman korban MN saat dikonfirmasi wartawan menyampaikan, keluarga melaporkan ustadz pengasuh salah satu ponpes di Sambungmacan karena diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap T yang masih duduk dibangku kelas 1 SMP. 

Menurut MN kejadian pencabulan berlangsung sepekan lalu di Kompleks Ponpes milik terlapor. Kejadian bermula seusai mengaji hafalan Al-quran sekitar pukul 17.00 WIB. 

"Korban diminta pak ustadz untuk menyapu di gudang, setelah itu pintu ditutup ddi dalam gudang hanya berdua. Anak itu takut ketika diminta membuka celananya sama gurunya itu. Dosa Mbah gak boleh," ungkap MN menirukan penjelasan keponakannya, Senin (06/9/2021).

Terlapor kemudian berbuat yang tidak sepantasnya dilakukan seorang guru terhadap anak didiknya. Korban berontak berteriak dan akhirnya pintu dibuka oleh oknum ustad tersebut.

"Korban sudah bilang tidak mau, itu dosa, tapi celana di plorotkan (diturunkan selutut) dan jarinya pak guru itu dimasukkan ke alat vital. Korban berontak dan teriak baru pintunya di buka. Setelah cerita ke Ibu Korban sempat dilabrak kakaknya, kemudian dia minta maaf kalau khilaf," jelasnya.

Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Guruh Bagus Eddy Suryana saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa telah menerima aduan dari keluarga korban atas tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru ngaji di Sambungmacan Jumat 3 September. Pihak kemudian melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kronologis kejadian pencabulan terhadap gadis belia itu.

"Besok Saksi-saksi kita periksa ada beberapa saksi yang kita hadirkan terutama dari keluarga korban," kata Guruh kepada wartawan, Senin (6/9).

Kejadian pencabulan yang diduga dilakukan terlapor terhadap santriwati itu sangat disayangkan warga setempat. Karena terlapor keseharian dipercaya sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama. 

Meskipun terlapor sudah meminta maaf, namun keluarga berharap proses hukum berlanjut agar tidak terulang kasus serupa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00