FOKUS: #PEMBELAJARAN ERA PANDEMI

Keluarga Pasien Covid-19 Ancam Nakes RSUD Solo Diperiksa Polisi, Berlanjut ke Proses Hukum?

Kapolresta Surakarta Kobespol Ade Safri Simanjuntak saat memberikan keterangan pers.

KBRN Surakarta: Sejumlah Tenaga Kesehatan (Nakes) di RSUD Ngipang Kota Solo mendapatkan ancaman kekerasan dari keluarga pasien Covid-19. Ancaman bermula karena keluarga menolak pemulasaraan jenazah secara protokol kesehatan, meskipun sudah terkonfirmasi positif korona. 

Kapolresta Surakarta Kombes Ade Safri Simanjuntak memastikan proses hukum terhadap pengancam tenaga kesehatan (nakes) di RSUD Ngipang. Menurutnya tindakan yang dilakukan oleh suami pasien yang meninggal COVID-19 sudah memenuhi unsur pidana. 

"Ada pengancaman dari suami yang istrinya meninggal dan dinyatakan positif COVID-19. Yang bersangkutan mengancam nakes. Yang intinya menolak pemakaman dengan protokol kesehatan," tandas Ade Safri kepada wartawan di RSUD Ngipang, Kamis (22 /7 /2021). 

Kapolres mengatakan, telah meminta keterangan kepada pihak yang melakukan pengancaman. Ade mengatakan, proses hukum tetap berjalan sembari menunggu perkembangan berikutnya. 

"Kita lihat perkembangan lebih lanjut seperti apa, apakah dari pihak nakes akan memberikan kesempatan maaf kepada yang bersangkutan, kita lihat nanti," ungkapnya. 

Menurut Ade Safri, yang dilakukan kepolisian sebagai bentuk perlindungan terhadap nakes yang sudah bekerja keras untuk menangani COVID-19. Maka dari itu, tidak boleh ada pihak manapun yang mengancam nakes. 

"Jangan sampai ada ancaman kepada nakes, nakes sudah bekerja keras untuk ini. Polri sebagai representasi negara akan hadir memberikan perlindungan kepada seluruh nakes yang melakukan ti dakan mulia. Tidak boleh ada kendala atau ancaman yang mengganggu," ujarnya.

 Lanjutnya, proses hukum ini sebagai edukasi kepada semua masyarakat, bahwa setiap pasien yang meninggal karena COVID-19 ditangani dengan prokes. Hal ini sebagai upaya memutus mata rantai penularan.

"Ini yang perlu dipatuhi bersama, tolong SOP ini dipatuhi untuk kepentingan bersama," sambungnya. 

Untuk diketahui dua dokter satu perawat dan satu bidan di RSUD Ngipang mendapatkan ancaman kekerasan dari suami pasien Covid-19 yang meninggal dunia, Kamis (22/7/2021) pagi. Ancaman datang saat jenazah akan dilakukan pemulasaraan secara prokes ditolak oleh suami pasien.

Kapolresta menambahkan, kasus tersebut bermula ketika pihak rumah sakit memberikan penjelasan kepada keluarga pasien yang meninggal terkait dengan kondisi pasien. Akan tetapi, suami pasien justru tidak terima dan mengeluarkan ancaman kepada para nakes di rumah sakit.

"Diberikan edukasi oleh pihak nakes namun yang terjadi adalah pengancaman kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap nakes. Pengancaman sudah ada unsur pidananya dan kami sudah memintai keterangan terhadap nakes yang ada," tuturnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00