Waspada Covid-19, Kirab Budaya dan Rebutan Gunungan Pasar Klewer Picu Kerumunan

Foto Caption: Masyarakat berebut gunungan dari produk tekstil di depan Pasar Klewer Timur Solo, saat kirab boyongan pemindahan pedagang, Jumat (16/10/2020). Dok Mulato

KBRN, Surakarta: Pemindahan ratusan pedagang dari Pasar darurat Alun-alun Utara (Alut) ke Pasar Klewer Timur diwarnai kirab budaya Jumat (16/10/2020). Kirab boyongan pedagang ini ternyata memicu kerumunan di depan gedung baru.

Kerumunan terjadi ratusan orang berebut gunungan yang terbuat produk tekstil di dua titik di sekitar gedung baru Klewer Timur. Pantauan di lokasi, paguyuban pedagang sebenarnya sudah mengatur agar massa tidak terkonsentrasi di satu titik. 

Satu gunungan dibagikan di depan pintu masuk gedung baru. Sementara satu gunungan lain dibagikan di ruang terbuka di atas gedung pasar depan Pasar Klewer barat.

Kerumunan pertama terjadi di depan pintu pasar. Warga berebut gunungan produk tekstil yang dibawa menggunakan becak. Di saat yang sama, gunungan lain dibawa ke ruang terbuka di atas pasar

Pembagian di lokasi kedua awalnya berjalan secara teratur. Panitia berulang kali mengingatkan mereka untuk menjaga jarak dan tetap mengenakan masker. Namun para tukang tetap berbaris di depan gunungan tanpa memperhatikan jarak. Rebutan gunungan pun tak terelakkan karena pengunjung merengsek menerobos pagar betis petugas keamanan dibantu paguyuban.

“Sebenarnya sudah ada kesepakatan untuk melaksanakan protokol kesehatan. Tapi ya namanya manusia mungkin susah diatur,” kata Ketua Umum Paguyuban Pedagang Klewer Timur, Sutarso.

Menurut Sutarso, mereka yang berebut adalah pegawai di Pasar Klewer dan tukang yang setiap hari mengerjakan bangunan di sana. “Jadi walaupun kerumunan, kita sudah setiap hari bersama. i tadi warga kita sendiri,” ujarnya.

Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengakui sulit mengendalikan krumunan di pasar, apalagi dalam suasana rebutan Gunungan. Pihaknya hanya berharap tidak terjadi penularan Covis 19.

“Kalau rebutan gunungan itu semoga tidak kena covid 19. Angel (sulit) itu kalau rebutan gunungan," kata FX Hadi Rudyatmo saat ditemui wartawan disela peresmian gedung BNNK di Penumping Laweyan.

Menurut walikota yang akrab disapa Rudy itu, kirab budaya ini salah satu sedekah adat budaya Solo. Sebagai kota budaya selalu digelar boyongan sebagai bentuk tolak bala.

"Dilakukan seperti itu kita berupaya supaya pedagang, pembeli lantas pasarnya bebas dari bala. Ya itu boleh saja, tradisi itu. Bagian tradisi Jawa," ucap Rudy.

Untuk diketahui, Pasar Klewer Timur mulai dibangun pertengahan Desember 2019 selesai sekitar 10 bulan dengan Pagu anggaran Rp 54 Miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Klewer Timur memiliki 504 kios dengan konsep semi basement. 

"Di atas pasar difungsikan sebagai ruang terbuka untuk umum yang terkoneksi langsung dengan pintu masuk Klewer Barat," jelas kepala Dinas Perdagangan Surakarta Heru Sunardi disela kirab. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00