Relawan Pekarya Sungai Merawat Bengawan Solo

KBRN,Surakarta: Hampir setiap Sore, belasan relawan Pekarya Sungai Solo, membersihkan sungai-sungai yang mengalir di Kota Bengawan. Utamanya Sungai Bengawan Solo, Sungai pepe dan beberapa anak-anak sungainya.Memakai perlengkapan keamanan beberapa relawan turun ke Bendungan Tirtonadi Sungai pepe membersihkan tumbuhan liar, enceng gondok, dan kangkung yang menghambat aliran sungai.

"Agenda sore ini membersihkan tumbuhan kangkung dan enceng gondok. Dimana itu akan mengganggu aliran sungai," ungkap salah seorang relawan Pekarya Sungai Tafif Joko Susilo kepada RRI, kemarin.

Tafif Joko Susilo yang merupakan Pengamat Sungai Pepe ini tak canggung untuk membersihkan sungai yang banyak ditumbuhi enceng gondok. Biasanya setelah Salat Ashar hingga menjelang Magrib berkutat dengan aliran air yang kotor bercampur dengan sampah dan limbah.

Tak ada rasa jijik sedikitpun atau bahkan ragu untuk membersihkan sungai dari prilaku buruk masyarakat yang membuang limbah rumah tangga dan popok bayi ke sungai. Rasa gatal dikulit akibat air yang kotor pun tak dihiraukan para relawan. Tak hanya aliran sungai saja, mereka juga membersihkan tanggul sungai dari rumput liar.

"Untuk setiap hari kami membersihkan sungai dan tanggul. Untuk satu tim kami 14 personel dua pengamat dua juru sungai dan 10 personil perkarya sungai," sambungnya.

Kegiatan pekarya sungai memang tak hanya rutinitas belaka. Saat kejadian bencana atau mitigasi mereka selalu terdepan. Misalnya saja saat ada sampah ranting hingga barongan bambu yang tersangkut di tiang jembatan akan langsung dibersihkan.

"Ya sementara ini agendakan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Pepe. Kalau anak sungai itu kejadian khusus. Seperti barongan rubuh menghambat aliran sungai kita kondisikan dulu untuk perawatan kita utamakan yang daurat dulu," bebernya.

Relawan lainya Budi Utomo dari Sibat PMI Solo ini mengaku, dirinya tergugah sukarela membersihkan sungai dari sampah. Bukan saja karena kecintaanya pada lingkungan yang bersih, namun juga prihatin dengan masyarakat yang membuang sampah ke sungai.

Dia mengaku sewaktu kecil Bengawan Solo tempat mandi dan berenang yang nyaman, bersih dari sampah dan limbah. Namun kondisi saat ini jauh berbeda.

"Warga mulai meninggalkan sungai dan sampah dibuang ke sungai. Padahal saat saya kecil Bengawan Solo ini enak buat main dan mandi, tapi sekarang sudah sangat kotor dan limbah. Saya memulai aksi ini saat bergabung dengan Sibat PMI. Saya menemukan media di situ karena sebelumnya bergerak tapi sebatas sendiri," jelasnya.

Belakangan ini Pemerintah Kota Surakarta menerapkan sanksi sosial bagi warga yang tidak menggunakan masker untuk membersihkan aliran drainase dan sungai. Pekarya sungai sangat mendukung kebijakan tersebut sedikit banyak menumbuhkan kecintaan warga pada sungai yang bersih dan mengurangi sampah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00