Tatanan Kehidupan Baru di Solo Banyak Pelanggaran

Tim supervisi dari Pemkot Surakarta meninjau pelaksanaan Tatanan Kehidupan Baru di Mall kota Solo.

KBRN, Surakarta: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surakarta  mendapati delapan jenis pelanggaran selama penerapan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 067/1165 tentang pedoman teknis penanganan Covid 19 di Solo. 

Pelanggaran tersebut tidak hanya soal penerapan protokol kesehatan, namun soal pengelolaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan juga kegiatan bersepeda yang dianggap menganggu lalulintas. 

Kepala Satpol PP Surakarta Arif Darmawan mengatakan, banyak pelanggaran terjadi semenjak Perwali tentang tatanan kehidupan baru itu diterapkan. Di antaranya menjamurnya PKL di berbagai lokasi, seperti taman kota Jayawijaya Mojosongo dan beberapa tempat lainya. Satpol mencatat ada puluhan PKL baru yang menempati kawasan terlarang. 

"Terutama PKL baru, sekitar 87 di taman kota, Jayawijaya. Pelanggaran masker di mall," beber Arif Senin (29/6/2020).

Kemudian juga pelanggaran masker baik di Pusat Perbelanjaan, Mall dan Pasar Tradisional. Bahkan menurut Arif yang lagi tren saat ini bersepeda juga ditemukan beberapa pelanggaran. Yakni berkerumun, tidak memakai masker, dan juga memenuhi jalan sehingga menyebabkan masalah baru.

"Ada beberapa pelanggaran yang kami bedakan. Komunitas sepeda problem berkerumun, tidak pakai masker, memenuhi jalan, bahkan dibel nyuworo ra penak (bicara tidak enak) jadi gegeran juga," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Arif, penerapan protokol kesehatan seperti cuci tangan pakai sabun di mall dan rumah makan sudah berlangsung sesuai aturan. Namun yang sangat disayangkan tempat pencucian alat makan yang tidak sesuai ketentuan, seperti mencuci ratusan piring dalam satu tempat tanpa air mengalir.

"itu droplet satu ember dipakai ratusan piring tidak diganti air mengalir itu juga masalah itu kita laporkan pada gugus tugas. Rata-rata temen PKL, cuci tangan sudah cuci alat ini belum," jelasnya.

Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan, anak-anak dibawah usia 15 tahun tetap diminta tidak pergi ke ruang publik untuk menghindari penularan Covid-19. Pria yang akrab disapa Rudy itu mengaku diperbolehkannya anak di atas lima tahun ke tempat publik ada permintaan dari beberapa kalangan, namun justru menambahkan kasus anak terpapar Covid 19.

"Ya satu memang permintaan orang tua. Yang kedua juga mall-mall kalau tidak ada anak disitu gak ramai katanya.

Kendati mengizinkan anak 15 tahun ke atas boleh ke Mall, namun Walikota tetap memastikan anak-anak tersebut belanja, bukan untuk nongkrong. Pihaknya meminta orang tua tetap melakukan pengawasan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00