Animo Generasi Muda Pada Pertanian Turun, Muda-mudi Sragen Dirikan HPTS, Begini Peran Pentingnya

Foto ilustrasi, Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo bersama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati melakukan panen raya kacang tanah di Area Pertanian kecamatan Kedawung.

KBRN, Sragen: Animo generasi muda terhadap pertanian di era mileneal ini semakin turun. Hal ini ditunjukkan menurunnya jumlah petani lebih 20 persen pada beberapa tahun terakhir.

Menurunnya minat terhadap dunia pertanian disebabkan tak sedikit yang menganggap image profesi petani dipandang rendah dan tidak prospektif.  

Kondisi ini menjadikan perhatian tersendiri bagi muda-mudi di Kabupaten Sragen. Apalagi selama ini Bumi Sukowati ini menjadi salah satu lumbung pangan nasional. 

Berangkat dari kondisi tersebut muda-mudi dari Kabupaten Sragen mendeklarasikan berdirinya Himpunan Pemuda Tani Sukowati (HPTS). 

Dipimpin Isyana Darmastuti Raras Anindyasari sebagai Ketua, para pegiat petani milenial itu bersiap membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian. Pemuda Tani Sukowati adalah organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang pertanian.

Total ada sekitar 50 pengurus yang dilantik dalam kepengurusan HPTS, meliputi pengurus kabupaten dan perwakilan kecamatan. Menurut Raras sapaan akrabnya, organisasi itu dirintis berangkat dari latar belakang makin menurunnya animo generasi muda terhadap pertanian.

“Tujuan himpunan itu untuk menjadikan wadah terbaik dalam menciptakan kapasitas petani muda khususnya di Sragen dan umumnya di Indonesia. Visi misinya menghimpun pemuda yang bergerak di bidang pertanian, mengkader calon-calon petani di masing-masing desa. Mempercepat pembangunan pertanian berbasis teknologi agar terwujud petani milenial dan sarana sharing ilmu pertanian dan mengembangkan model-model bisnis di dunia pertanian,” ujarnya saat dijumpai wartawan belum lama ini. Raras menguraikan kehadiran Himpunan Pemuda Tani Sukowati itu juga sebagai upaya mengangkat kembali image profesi petani yang selama ini dipandang rendah dan tidak prospektif. 

Hal itu ditunjukkan dengan penurunan jumlah petani yang mencapai kisaran 20 persen dan makin minimnya pemuda yang tertarik menekuni pertanian.“Teman-teman ini pinginnya berusaha bagaimana pemuda ini paling tidak ikut mencintai pertanian. Walaupun bukan pelaku tani, minimal nanti mereka akan menggerakkan. Bagaimana menjadi petani milenial. Karena faktanya jumlah petani makin ke sini makin berkurang,” terangnya.Lewat organisasi HPTS tersebut nantinya diharapkan menjadi sarana menjembatani para petani dengan pihak berkepentingan. Misalnya membantu memberi pendampingan ke dinas pertanian untuk memecahkan solusi hama, mengawal harga pasca panen dan lainnya yang bermuara mendongkrak pendapatan petani dan mengangkat pertanian. 

Raras menyebut keduanya siap mensupport dan menjadi mitra untuk membantu kegiatan dan program membantu pertanian. 

“Misalnya hama tikus, nanti teman-teman akan membantu mencarikan solusi atau teknologi untuk mengatasi sehingga petani tidak merasa dirugikan. Kita nanti juga sebagai penggerak,” jelasnya. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar