FOKUS: #PEMBELAJARAN ERA PANDEMI

Warga Klaten Nikmati Sensasi Gowes Sepeda Kayu Bikinan Sendiri, Sering Dicegat Demi Foto Selfi

Pusak tengah foto bersama dengan latar belakang Tugu Jogja saat gowes dengan sepeda kayu buatannya sendiri.

KBRN Klaten: Gowes dengan sepeda standar pabrikan itu biasa, namun ketika gowes dengan sepeda buatan sendiri yang berbahan dasar kayu ini sensasi yang luar biasa. Inilah yang dilakukan Tularno alias Pusak, warga Klaten, gowes dengan sepeda kayu yang dibuat dengan tangannya sendiri

Tularno alias Pusak hampir setiap luang gowes dengan sepeda kayu berjenis siput keliling ke berbagai tempat pariwisata di Jogja, Klaten dan Solo. Sepeda siput klasik dengan roda depan besar ini ternyata buah karyanya sendiri saat gowes sedang booming ditengah pandemi Covid-19. 

Warga Sambimulyo Dompyongan, Jogonalan ini menceritakan, awal mula banyak temen gowes saat musim covid lalu, dirinya pun mempunyai minat yang sama, namun untuk membeli sepeda ekonomi sedang kurang baik. "Kemudian mencuat ide bikin sepeda dari kayu, kebetulan di rumah usaha mebel, kayu dan peralatan sudah tersedia," ungkapnya kepada RRI belum lama ini.

Ide pertama membuat sepeda kayu mirip mirip-mirip DKW yang menghabiskan waktu sekitar dua bulan. Setelah itu menyusul sepeda kayu jenis siput yang memakan waktu hampir sama dua bulan.

"Ini dari kayu jati sama Nongko, yang awal kecil ini kalau orang bilang seperti DKW. Yang ini besar sepeda siput klasik. Habis biaya berapa murah sih, tapi menuangkan ide itu yang mahal. Kalau buat sepeda ini satu unitnya dua bulan sambil kerja," jelasnya.

Ayah dengan seorang putra ini membuat sepeda kayu bukan asal asalan, diperlukan kecermatan karena bikin center roda itu yang tidak mudah. Kayu pun pilihan Jati dan Nongko berkualitas, agar awet dan tetap bagus. 

Memang tidak semua material dari kayu, ada beberapa yang memang harus besi bahkan onderdil bawaan sepeda seperti pedal, rantai serta karet pelapis ban.

"Kalau saya punya prinsip bikin susah kayu sekalian yang bagus. Kalau nanti ada yang minat ya tak jual kalau Ndak ya tak buat sendiri. Sepeda ini saya jamin sampe anak turun saya masih bisa dinaiki. Ini orisinil banyak kayu kalau ndak bisa dari kayu ya terpaksa pakai material sepeda."

Pusak mengaku sering gowes bersama istri tercinta ke beberapa tempat pariwisata seperti Parangtritis, Borobudur, Keraton Solo dan Jogja. Bahkan dirinya beberapa kali harus berhenti gowes karena meladeni permintaan swafoto wisatawan. 

Sepeda ini bukan saja koleksi selamanya, jikalau ada yang menginginkan dan berani merogoh kocek lebih dari Rp 10 juta akan dilepas. "Yang besar Parangtritis baru sekali, ke Jogja. Banderol yang paling susah yang tanya suka lebih dari 10 juta," tukasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00