FOKUS: #PPKM MIKRO

Cerita Nestapa Sopir Bus AKAP, Rela Kerja Apapun Penting Dapur Ngebul

Wahyu, salah satu sopir bus AKAP Surabaya Yogyakarta terdampak kebijakan larangan mudik.

KBRN, Surakarta: Momentum Lebaran salah satu yang di tunggu tunggu bagi sebagian masyarakat. Tradisi saat Lebaran selalu memakai pakaian baru dan bagi-bagi uang fitrah. 

Namun sudah dua Lebaran ini sopir bus di Terminal Tirtonadi Solo tidak merasakan momen berbahagia itu. Ini dampak semua transportasi umum antar kota antar propinsi (AKAP) dilarang operasi dan harus dikandangkan. 

Kondisi ini membuat keprihatinan para sopir bis yang tidak bisa panen penumpang mudik Lebaran. 

Seperti dialami Wahyu 45 tahun warga Magetan, Jawa Timur sopir Bis jurusan Surabaya – Yogyakarta ini. Dia mengaku dengan berati hati dan terpaksa menganggur selama pelarangan mudik. "Sebab saat pemerintah menerapkan kebijakan maka harus mematuhi," ucapnya kepada RRI belum lama ini.

Bapak satu anak ini padahal harus memenuhi kebutuhan keuangan keluarga karena istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga. Ia kecewa dengan kebijakan pemerintah yang merugikan awak angkutan umum. Dia terpaksa harus banting setir kerja apapun asal dapur tetap ngebul.

"Ya kecewa banget dan terpukul dengan adanya larangan mudik. Kita pulang bekerja serabutan menjadi tukang batu atau garap sawah untuk membiayai hidup istri dan kuliah anak. Juga harus membayar angsuran sepeda motor," bebernya sedih.

Hal senada diungkapkan sopir Bis Agung Riyuli. Sopir bus jurusan Surabaya - Yogyakarta Kembali merasakan kekecewaan kepada kebijakan pemerintah. Sudah selama setahun sepi kini mulai akan panen penumpang justru kembali dilarang beroperasi lebaran tahun ini. 

Tahun ke dua saat pandemi Covid-19 harus pulang. Warga Solo itu harus putar otak mencari pekerjaan lain seperti kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan.

"Ya tidak bisa lebaran bersama keluarga karena tidak ada pendapatan. Saya keberatan dengan aturan pemerintah tetapi saya ya mentaati aturan itu, mau bagaimana lagi sudah aturan ya terpaksa harus banting stir jadi kuli bangunan," ucapnya.

Selama diliburkan, dia mengaku sama sekali tidak mendapatkan bantuan hidup baik dari perusahaan maupun pemerintah. Sementara pendapatannya sebagai sopir trayek Yogyakarta – Surabaya berdasarkan premi presentasi 12 persen. Di saat sepi hanya bias mengantongi Rp100.000 sedang saat ramai Rp 250.000 perhari. Siti/MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00