Destinasi Wisata Kuliner Internasional, PHRI Karanganyar Minta Pelaku Usaha Komitmen Tingkatkan Pelayanan

KBRN, Karanganyar: PHRI Karanganyar meminta para pelaku usaha kuliner di Tawangmangu Karanganyar mulai membentuk komitmen dalam pemberlakuan Standart Pelayanan dan Perilaku Pegawai terhadap wisatawan pasca penetapan jalan tembus Tawangmangu sebagai kawasan wisata Kuliner Internasional.

Ketua PHRI Karanganyar, Hardoyo mengatakan, standart pelayanan dan perilaku pegawai dinilai penting untuk memberikan kenyamanan para wisatawan.

Menurutnya, dengan ditetapkannya kawasan wisata kuliner di jalan tembus Tawangmangu, meningkatkan standart nilai kawasan wisata Tawangmangu, maka perlu diikuti dengan peningkatan pelayanan dan standart mutu produk.

"Salah satu komitmen peningkatan pelayanan yakni keramahan pegawai serta kecepatan pelayanan. Minimal, dalam kurun waktu 10 hingga 15 menit, wisatawan yang berkunjung di rumah makan atau resto harus sudah mendapat pelayanan minuman," ungkapnya kepada wartawan, Selasa (16/8/22).

Dengan begitu, lanjut Hardoyo wisatawan akan merasa nyaman dan memberikan kesan baik untuk kembali berwisata di Tawangmangu.

"Selain pelayanan dan keramaha pegawai, komitmen menyamakan harga menu makanan juga perlu dilakukan para pelaku usaha kuliner, ini, agar tidak membuat wisatawan kapok berkunjung serta menjaga nama baik kawasan wisata Tawangmangu," jelasnya.

Lebih lanjut, Hardoyo menuturkan, penetapan kawasan wisata kuliner internasional tersebut akan meningkatkan kunjungan wisata sekitar 5 hingga 10 persen.

"Kondisi ini juga didukung dari mulai melandainya kasus Covid 19 yang turut mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Tawangmangu," bebernya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban kuliner Tawangmangu Parmin mengatakan, koordinasi bersama dengan para pelaku usaha kuliner di sepanjang jalan tembus Tawangmangu sudah menghasilkan sejumlah kesepakatan.

"Kita Sepakan mulai dari penyamaan harga nasi putih dan teh hanggat senilai 3.000 hingga 4.000 rupiah. Serta, penetapan upah bagi pegawai partime sebesar 10 ribu rupiah perjam untuk setiap pegawai," katanya.

Menurut Parmin, selain berdampak pada perbaikan layanan mutu usaha kuliner, komitmen tersebut juga menimbulkan persaingan yang sehat dari para pelaku usaha di kawasan wisata Tawangmangu.

"Persangingan sekarang juga menjadi lebih sehat, kemarin kan kurang ya. Sekarang kan sistemnya kekeluargaan, ada masalah kita komunikasikan, sanksinya apa, ya sangsi sosial," jelasnya.

Adapun saat ini terdapat sekitar 35 pelaku usaha kuliner yang beroperasi di kawasan wisata kuliner Internasional. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar