FOKUS: #G20

Pertemuan G-20 di Solo, Indonesia Serius Akan Stop Ekspor Bahan Mentah Hasil Tambang

KBRN,Surakarta: Pemerintah Indonesia perlahan akan menyetop ekspor bahan mentah untuk hasil tambang berupa Nikel, Timah dan Bauksit. Sebagai gantinya Indonesia akan memaksimalkan hilirisasi industri.

Hal ini diungkapkan Menteri Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, seusai membuka Trade Investment and Industry Working Group (TIIWG) G20 yang digelar di Alila Hotel, Solo Rabu (6/7/2022).

Bahlil Lahadalia mengatakan, saat ini akan meminimalisir ekspor bahan mentah ke luar negeri, salah satunya yakni bauksit dan timah. Terkait dengan waktunya, Bahlil belum bisa menentukan kapan penghentian ekspor bauksit. Namun ia mengungkap jika instruksi dari Presiden Joko Widodo, penghentian ekspor bauksit harus dilakukan tahun ini. 

"Tahun ini kita akan menyetop bauksit, melarang ekspor bauksit mentah. Tahun depan kita akan melarang ekspor timah. Kita juga akan melarang ekspor listrik memakai EBT ke dunia. Indonesia menargetkan di tahun 2025 minimal 24 persen listrik menggunakan EBT, kalau kita belum cukup ngapain ekspor," katanya. 

Dalam forum ini Indonesia berusaha melakukan hilirisasi dalam beberapa bahan mineral yang biasanya diekspor sebagai bahan mentah, seperti bauksit, nikel dan timah. Dalam hal ini Indonesia membawa pembahasan tersebut bisa dibawa ke WTO (World Trade Organization). 

Menurut Bahlil, China merupakan negara penghasil timah terbesar di dunia, dan Indonesia di urutan kedua. Sayangnya untuk eksportir terbesarnya yakni Indonesia. Untuk itu saat ini pemerintah berupaya melakukan hilirisasi. 

"Saat ini pemerintah baru berusaha melakukan hilirisasi sebesar 5 persen. Ini juga sebagai upaya kontrol penambangan liar. Kalau tidak di kontrol berbahaya," tandasnya.

Sedangkan Dirjen perundingan perdagangan internasional Kementerian perdagangan RI Jatmiko Bris Wicaksono mengatakan, pertemuan kedua ini membahas tiga agenda. 

Yakni memastikan proses reformasi WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) bisa berjalan sesuai dengan aspirasi member baik negara berkembang maupun non berkembang. Kemudian membahas mengenai perdagangan industri dan investasi bisa merespon terhadap Pandemi Covid 19. 

"Perkembangan terakhir sudah memberikan satu dorongan sebagai contoh pertemuan KTM WTO kemarin di Jenewa memberikan output sangat baik sejalan dengan yang kita dorong di CG 20 dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat proses investasi berkelanjutan memperhatikan aspek lingkungan sosial," jelasnya.

Di sisi lain Indonesia berusaha mengelola dan memperketat hilirisasi ekspor bahan mentah untuk mendorong terwujudnya industri yang ramah lingkungan dan mendukung energi terbarukan dengan nilai tambah yang besar. 

Melalui G-20 pemerintah berharap para investor membangun industri di Indonesia. Sehingga ada kolaborasi positif yang saling menguntungkan pada semua negara dan pengusaha. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar