Pedagang Mebel Gilingan Resmi Pindah ke Pasar Sementara di Stabelan

Sekretaris Daerah Sekda Surakarta Ahyani didampingi kepala Dinas Perdagangan Heru Sunardi melakukan potong tumpeng sebagai simbolis tasyakuran pindahan pedagang Pasar Mebel Gilingan ke Pasar Sementara di Stabelan.

KBRN,Surakarta: Puluhan Pedagang Pasar Mebel Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, hari ini Senin (23/5/2022) mulai menempati pasar darurat di Kawasan Stabelan. Pemindahan lokasi berjualan ini menyusul lokasi pasar lama akan dibangun sentra industri kecil menengah (IKM) oleh Kementerian Perindustrian.

Untuk menampung 85 pedagang los dan pelataran Pemkot Surakarta menyiapkan dua lokasi. Yakni di sebelah selatan Kantor Dinas Pendidikan dan sebelah timur Taman Segitiga Stabelan.

Kepala Dinas Perdagangan Solo Heru Sunardi mengatakan jumlah total pedagang Pasar Mebel Gilingan ada sebanyak 85 pedagang terdiri los dan pelataran. Sementara pasar darurat yang disiapkan ada 48 kios terdiri 20 kios di sisi selatan Kantor Disdik dan 28 di timur Taman Segitiga Stabelan.

"Di sini yang menempati 48 pedagang walaupun total pedagang 85 orang. Tapi ada yang memiliki kios lebih dari satu. Terus yang pelataran kemarin minta difasilitasi di sisi selatan kan ada 11 pedagang. Tapi mereka tidak mendaftar semua karena ada yang sudah punya tempat," kata Heru dalam acara syukuran menempati pasar darurat, Senin (23/5/2022).

Pemkot telah menyediakan fasilitas umum berupa selter dan promosi di lokasi yang baru. Hanya saja pemindahan jaringan listrik para pedagang dari pasar lama ke pasar darurat belum bisa dilakukan karena terkendala teknis dari PLN. "Memang tidak bisa pindah meteran langsung ke sini. Aturan PLN memang seperti itu," ungkap Heru.

Jika ada pedagang yang menginginkan menambah daya listrik, kata Heru akan difasilitasi Dinas Perdagangan. Pihaknya akan menerbitkan surat rekomendasi tersebut sebagai lampiran penambahan daya listrik.

"Kemarin sudah difasilitasi kalau yang mau pasang silakan langsung mengajukan nanti akan diterbitkan rekomendasi dari dinas untuk lampiran mengajukan ke PLN," ungkap dia.

Lanjut Heru, pedagang tidak diperbolehkan melakukan proses produksi karena daya listrik yang tidak memadai. Kedepannya pedagang juga diedukasi agar tidak lagi melakukan produksi di pasar. "Jadi pasar itu hanya sebagai showroom. Seperti yang diminta pak Sekda tadi. Karena pasar sudah berulang kali terbakar," beber Heru. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar