Tata Niaga Garam di Indonesia Perlu Segera Dibenahi.

KBRN Surakarta : Indonesia memiliki potensi garam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan  konsumsi Masyarakat. Hal itu disampaikan Pembina Koperasi Sekunder  Induk Garam Nasional SIGN Beni Suharsono SE MM dalam Pembekalan Kewirausahaan bagi  Pegawai RRI Surakarta yang memasuki Masa Persiapan Pensiun Selasa (15/9/2020). Namun Pemerintah menganggap  Petani Garam di Indonesia belum mampu memproduksi  garam untuk  industri dalam jumlah besar, meski ada pula yang  sudah mulai bisa dan jika diberi kesempatan sebenarnya mampu memproduksi garam industri.

Diakuinya, kebutuhan garam Masyarakat Indonesia sekitar 2 juta ton, tetapi sampai saat ini baru bisa terpenuhi 100.000 ton, sehingga saat ini disiapkan  teknologi untuk memproduksi secara besar besaran agar garam bisa diekspor dan Indonesia tidak perlu impor. Beni Suharsono  menyatakan, pihaknya sadar masih menghadapi  kendala dari sisi kualitas garam yang  diproduksi, masih untuk konsumsi belum untuk industry, karena perlu dilakukan pencucian garam.

Diungkapkan pula, Pemerintah melalui Kementrian Kelautan tahun ini sudah menyiapkan washing plan atau tempat pencucian garam di 7 titik sentra penghasil garam di antaranya  Madura, Pantura dan NTT. Selain itu menurutnya, tata niaga garam  di Indonesia perlu segera dibenahi mengingat Indonesia memiliki potensi garam yang cukup untuk memenuhi tingkat konsumsi Masyarakat.

“ Tata niaga garam  di Indonesia perlu segera dibenahi mengingat Indonesia memiliki potensi garam yang cukup untuk memenuhi tingkat konsumsi masyarakat,” katanya.

Sementara, Direktur Utama PT Garam Persero Achmad Didi Ardianto dalam Dialog Interaktif di RRI Surakarta menyatakan, komoditas garam menjanjikan keuntungan besar. Untuk itu perlu mengedukasi Koperasi Pedagang Pasar Tambak.  Apalagi menurutnya, garam memiliki banyak manfaat. Garam tidak saja untuk konsumsi masyarakat namun juga untuk kesehatan khususnya garam yang langsung dari laut tanpa campuran yodium. (Desk : Dyah Supana)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00