Retribusi Pasar Kembali Dipungut, Pemkot Klaim Tak Bebani Pedagang

KBRN,Surakarta: Penarikan kembali retribusi pasar tradisional di Kota Solo diyakini tidak akan memberatkan pedagang. Pemkot Surakarta mengklaim penarikan retribusi karena kondisi pasar mulai normal. Disi lain untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Heru Sunardi mengungkapkan, pemungutan retribusi dilakukan mulai 1 September lalu. Pedagang tidak keberatan untuk kembali membayar.

“Tidak hanya pedagang pasar penarikan retribusi juga dikenakan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang ada di bawah binaan Pemerintah Kota Surakarta baik yang ada di selter maupun sejumlah titik di Kota Solo,” beber Heru saat dikonfirmasi RRI, Senin (14/09/2020).

Dia menjelaskan, ada dua sistem penarikan retribusi dengan non tunai dan penarikan tunai. Pihaknya selama sebulan terakhir berkoordinasi dengan bank yang mewadahi fasilitasi pembayaran retribusi pedagang. Selain itu memberikan Surat Edaran dan memberikan informasi kepada para pedagang sehingga mereka bisa memahami dilakuan penarikan kembali retribusi pasar tersebut.

“Dengan penarikan kembali retribusi karena kondisi pasar mulai normal disisi lain untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi,” jelasnya.

Lebih lanjut Heru menambahkan dari data tahun 2019 penarikan retribusi yang masuk ke PAD mencapai Rp 23,8 Miliar dari yang ditargetkan Rp 26 Miliar. Target itu tidak terpenuhi pasalnya terdapat pasar terjadi  kebakaran sehingga di bebaskan retribusi.

Adapun rata rata penarikan reribusi satu pedagang 4.000 rupiah sedang kios lebih besar mencapai Rp 6 .000. Sedang untuk PKL Rp 500 per meter. Dari retribusi PKL ditarget untuk PAD Rp 400 juta. Sedangkan tahun 2020 hanya di target sebesar Rp 15 Miliar. “Kami optimis target itu terpenuhi,” ujar Heru. Desk Mulato

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00