Inflasi Surakarta 0,48 persen, Tertinggi Ketiga Setelah Purwokerto

KBRN, Surakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta mencatat pada bulan Desember 2019 terjadi Inflasi sebesar 0,48 persen. Inflasi disebabkan oleh naiknya angka indeks harga konsumen kelompok bahan makanan.

Kepala Badan Pusat Statistik Kota Surakarta Surakarta Totok Tavirijanto mengungkapkan makanan jadi, Perumahan, bahan bakar, kesehatan, pendidikan dan kelompok transportasi penyumbang inflasi terbesar di Solo. Kondisi tersebut berpengaruh pada capaian inflasi pada akhir tahun 2019 sebesar 0,48 persen dengan Indekis harga Konsumen sebesar 133,10. 

"Naiknya kelompok pengeluaran pada kelompok bahan makanan 1,65, makanan jadi 0,27 persen, perumahan 0,05 persen, kesehatan 0,06 persen, pendidiksn 0,07 persen dan kelompok transportasi 0,53 persen," jelas Kepala Badan Pusat Statistik Kota Surakarta Totok Tavirijanto, Kamis (2/1/2020).

Menurut Totok, beberapa komoditas yang menjadi langganan harga naik telur ayam ras, bawang merah, tarif angkutan udara, tomat sayur dan cabai merah. Totok menambahkan, dari 6 kota yang  di Provinsi jawa Tengah yang dihitung angka Inflasinya pada Desember 2019 tercatat semua kota mengalami Inflasi.

"Inflasi tertinggi terjadi di kota kota Purwokerto sebesar 0,51 Persen, Diikuti Cilacap 0,50 persen, Kota Surakarta 0,48 persen," bebernya.

Sementara itu, Semarang 0,46 persen, Tegal 0,37 persen dan Kota Kudus  0,24 persen. Sedangkan dalam kesempatan itu Wakil Ketua TPID Kota Surakarta, Bambang Pramono mengungkapkan, Inflasi bahan makanan memang paling tinggi. Sehingga perlu menjadi perhatian karena menjadi konsumen masyarakat sejahtera. "Target pada 2020 capaian Inflasi sebesar 3 persen."

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00