Ditengah Keterbatasan, Misbah Gencar Tangkal Kampanye Hitam Bagi Kaum Disabilitas

KBRN, Surakarta: Sudah sangat lazim bagi KPU untuk membentuk relawan-relawan yang bertugas menggerakkan partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak suaranya dalam Pilkada. Namun hal ini menjadi sangat tidak biasa ketika salah satu relawan tersebut menyandang disabilitas netra.

Ketidakmampuan melihat bagi Misbahul Arifin sejak usia 12 tahun karena penyakit glukoma yang dideritanya tidak menyurutkan ketetapan hatinya untuk menjadi Relawan Penggerak Partisipasi atau yang sering disebut Relawan Gerak Pasti yang bertugas untuk menggerakkan masyarakat menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada.

"Saya harus berusaha menggerakkan 1313 kaum disabilitas yang terdaftar di KPU Surakarta untuk menggunakan hak pilih mereka secara baik dan benar," jelasnya kepada RRI, Senin (26/10/20).

Pria yang lebih sering dipanggil Misbah ini mengaku rela menjadi relawan bagi kaum disabilitas karena mereka sering menjadi sasaran kampanye hitam atau kampanye uang di tengah keterbatasan mereka.

"Kalau kaum disabilitas mau dianggap sebagai warga yang sama maka mereka harus memilih dengan segala keterbatasan, sehingga akan merubah perspektif di dalam masyarakat," ungkapnya.

Maka, Menurut mahasiswa yang sekarang menempuh jenjang S2 di Fakultas Pasca Sarjana FKIP UNS Pendidikan Luar Biasa ini, pun gencar men share pamflet atau foto ajakan untuk memilih dengan aplikasi khusus disabilitas netra di smartphone nya rajin di smartphone penyandang disabilitas yang lain. Bahkan pemuda asal Kudus ini rela untuk mendatangi komunitas disabilitas yang masih belum mempunyai gadget.

”Ada temen2 disabilitas itu yang rajin di media sosial, maka saya pendekatannya dengan media sosial, menshare pamflet atau foto untuk mengajak temen2 memilih, bagi temen2 disabilitas dengan keterbatasan ekonominya belum memiliki alat2 modern seperti handphone, maka saya datangi komunitasnya, hanya sekedar memberitahukan tanggal 9 Desember itu ada pilihan Walikota dan Wakil Walikota, bagaimana kita sebagai warga negara yang baik dan sudah dijamin Undang-Undang untuk menyalurkan hak politik kita sebagai disabilitas,” jelasnya.

Adapun, Misbah yang merupakan anak tunggal dari pasangan Zainal Arifin dan Karmini ini bercita-cita saat lulus S2 nanti menjadi seorang Dosen. Keaktifannya menjadi relawan dan organisasi meski hanya organisasi disabilitas akan dipakainya sebagai modal untuk mewujudkan cita-cita nya menjadi seorang Dosen.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00