3 Tahun Menanti, Kirab Budaya Tandai Boyongan Pedagang Klewer

Foto caption: Pedagang Pasar Klewer Solo mengenakan pakaian lurik saat mengikuti kirab budaya Boyongan dari Pasar darurat di Alun-alun Utara.
Foto caption: Pedagang Pasar Klewer Solo membawa produk-produk tekstil yang biasa diperjualbelikan di Pasar Klewer. Dok Mulato

KBRN, Surakarta: Penantian panjang pedagang pedagang Pasar Klewer Solo terbayarkan. Sejumlah 526 pedagang yang sebelumnya menempati pasar darurat di Alun-alun Utara (Alut) Keraton Surakarta selama tiga tahun terakhir, Hari ini Jumat (16/10/2020) akhirnya pindah ke bangunan pasar yang baru. 

Kirab budaya dengan dua gunungan menandai boyongan pedagang Pasar Klewer Timur. Wajah-wajah ceria terpancar dari puluhan pedagang yang mengikuti kirab. Kirab tersebut merupakan yang pertama kalinya digelar sejak kasus Covid-19 teridentifikasi di Solo Maret lalu.

"Kita punya dua acara seremonial, pertama saat ground breaking, dan kedua hari ini saat kita berangkatkan pedagang masuk ke pasar yang baru," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Heru Sunardi usai pemberangkatan kirab.

Kirab budaya boyongan pedagang klewer timur diikuti oleh 70 pedagang dan Dinas Perdagangan Pemkot Surakarta. Mereka mewakili ratusan pedagang Klewer Timur yang mulai menempati gedung baru. 

Iring-iringan Kirab budaya diberangkatkan oleh Wakil Walikota Solo dengan mengibaskan bendera start. Berangkat dari Pasar Darurat di Alun-alun Utara, kirab berangkat menuju gedung baru klewer timur dengan melintasi jalan Sapit Udang Keraton.

Ketua Paguyuban Pasar Klewer Timur, Sutarso mengatakan, dua gunungan ditujukan sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya pembangunan Klewer Timur. Satu gunungan ditujukan untuk masyarakat umum, sementara gunungan lain ditujukan bagi tukang yang terlibat dalam pembangunan gedung pasar.

"Ini ya bentuk syukur kami berbagi sosial. Sebelumnya kami tiga tahun menempati pasar darurat, sekarang bisa menempati pasar Klewer," bebernya disela kirab.

Menurutnya kunci kios sudah diterima 526 pedagang sejak beberapa hari yang lalu. Hanya saja pedagang mulai memasuki gedung baru secara bertahap selama dua hari ke depan untuk menghindari kerumunan di dalam pasar.

"Karena banyak pedagang yang mau memasukkan dagangan. Untuk menata rak itu rawan kecelakaan sehingga harus diatur demikian," katanya.

Pedagang pun semakin senang, tatkala mereka menempati kios baru Pasar Klewer tanpa dipungut biaya sepeserpun. Mereka hanya diminta tertib membayar retribusi pasar tradisional. "Tidak ada pungutan sama sekali. Ini keluar duit iuran hanya untuk acara kirab ini," ujar Sutarso.

Klewer Timur sendiri mulai dibangun pertengahan Desember 2019. Pembangunan berlangsung sekitar 10 bulan dengan Pagu anggaran Rp 54 Miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pasar Klewer Timur memiliki 504 kios dengan konsep semi basement. Di atas pasar difungsikan sebagai ruang terbuka untuk umum yang terkoneksi langsung dengan pintu masuk Klewer Barat. 

Bangunan baru tersebut diklaim sebagai "green building" dengan menekan konsumsi listrik semaksimal mungkin. Pembangunan Klewer Timur sempat tertunda dua kali, karena anggaran dari pemerintah pusat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00