Anak Muda Tak Minat Jadi Petani

Ilustrasi petani mengairi sawah

KBRN, Surakarta : Regenerasi petani menjadi persoalan seriua untuk kelangsungan sektor pertanian. Profesi petani saat ini tidak lagi di minati kalangan anak-anak muda. Mereka memilih bekerja di sektor lain yang bisa memberi jaminan kehidupan yang lebih baik.

Salah seorang petani asal Donohudan Boyolali  Suwardi mengatakan, Alasan pemuda didaerahnya enggan menjadi petani karena harus bekerja di bawah terik matahari sehingga membuat kondisi badan menjadi kotor.Tak hanya itu, hasil dari panen tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga, apalagi masa depan. 

" Kebanyakan pemuda saat ini tidak mau jadi petani. Karena rata-rata untuk petani saat ini kan yang pertama udah kondisine panas awake reget kabeh hasile niku leh okeh tomboke ( badannya kotor hasilnya banyak nombok) ” kata Suwardi saat ditemui RRI di lahan sawahnya, Kamis (24/9/2020).

Kondisi tersebut juga masih ditambah bebagai persoalan yang sering kali melingkupi para petani. Menurut petani asal Guli Nogosari, Waluya, Harga pupuk non subsidi masih tinggi dan sulit didapat, juga keterbatasan bahan bakar solar untuk peralatan pertanian merupakan masalah yang kerap  dijumpai petani. 

" Dalam pengadaan pupuk para petani merasa kesulitan dari tahun ke tahun dan harga pupuk kalau diluar subsidi terlalu tinggi bagi petani. Sebagai contoh ponska dari pemerintah 120 ribu per sak namun kalau diluar subsidi 150 ribu per sak bahkan ada yang sampai 200 ribu per sak,” keluh Waluya.

Minimnya minat anak muda menjadi petani serta berbagai persoalan lain yang dihadapi petani, membuat banyak lahan di Boyolali menjadi mangkrak karena tidak tergarap dengan baik. (Wiwid Widha )

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00